9/06/2011

Surat Kecil Untuk Bunda


Peluh itu masih belum kering didahimu, diantara riuh bocah-bocah menunggumu menyajikan minuman dingin disamping warung kecil milikmu. Semangatmu memberikan mereka kesukacitaan yang akan selalu kembali padamu memintamu membuatkan minuman dingin untuk mereka. Senyumanmu memberikan kehangatan diantara lelah yang kau rasa tiada usai. Kau begitu bersemangat untuk mereka terlebih untuk kami anak-anakmu.

Kau begitu sabar, memeluk kami saat kami menangis, dan dalam masalah. Kau selalu mengusap kepala kami dengan lembut dan berucap "sabar, semua ada jalannya" atau "ayo, ceritakan masalahmu, mungkin bunda bisa membantumu", namun kami hanya menggeleng dan tak menghiraukanmu membiarkan kami tenggelam dalam masalah kami sendiri tanpa harus menambah beban dibahumu. Namun Kau selalu tersenyum disana diantara sejuta pertanyaanmu dan sesekali kau mengajakku bercanda dimana aku hanya diam tak menghiraukanmu.

Bunda, dari mana kau dapatkan semangat dan kekuatan itu? Dari mana kau bisa begitu hebat memikul sejuta rasa berat yang menimpamu berpuluh tahun untuk kami. Bagaimana tangan itu masih begitu kuat memeluk kami dan mengangkat segala bebanmu dan kami. Andai aku mampu sepertimu bunda, ingin aku bisa menggantikan posisimu dan membiarkanmu duduk menikmati setiap harimu tanpa pernah memikirkan beban yang kau pikul.

Bunda, bukannya aku tak ingin membagi keluh kesah dan masalahku padamu. Namun, aku hanya ingin kau berbahagia tanpa kau memikirkan apa rasa dan pikiranku kini dan nanti. Aku hanya ingin selalu melihatmu tersenyum, senyuman yang selalu tulus menghiasi bibir merah tipismu yang tak bergincu itu. Dan memelukmu erat tanpa ingin ku melepaskan sedetik saja.

Bunda, maafkan bocah kecil yang selalu menjadi anak kecilmu ini disaat usia kami telah dewasa, untuk semua sedih dan airmata yang kami sebabkan. Untuk semua ketidakmampuan kami membahagiakanmu.

Begitu luas samudera kasih sayang yang kau berikan, begitu tinggi kebanggaan yang kau kibarkan bagi kami, begitu dalam ketulusan kasih yang kau eratkan. Hingga kami tak mampu memberikannya kembali padamu.

Bunda, terimakasih untuk detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun yang tiada henti kau berikan, ketulusan doa, keikhlasan, dan lambaian tangan saat melepas kami dan berharap untuk kami segera kembali. Cinta yang tak pernah usai, pupus, dan termakan waktu. Dan kau selalu disana, disatu sudut, berdiri, membuka tanganku untuk dapat kembali memelukku dan berucap "selamat datang anakku, bunda sangat merindukanmu", dan kau mengecup lembut kening kami lalu memelukku erat.

Bunda, sejuta cinta untukmu, dulu, kini, dan nanti, selamanya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment