9/27/2012

Life is Hibrid


God gave us the gift of life; it is up to us to give ourselves the gift of living well. -Voltaire 

Senin, 27 September, tepatnya empat puluh tujuh tahun yang lalu. Suara adzan dhuhur menjadi pembuka kehidupan baru bagi seorang bayi mungil dari sepasang suami istri dari sebuah pulau seluas sepuluh ribu kilometer, berpasir putih diujung selatan pulau sulawesi diantara seratus tiga puluh gugusan pulau kecil. Mata kecil itu masih belum bisa terbuka, namun bagi sang guru pencinta laut dan sang ibu pencinta buku adalah sebuah kebahagiaan tak terkira dengan kelahiran putra keduanya ini yang sekaligus menjadi putra tertua setelah putri pertama harus menghadap ilahi.

Terbayangkan bagaimana rasa bahagia menyeruak, membumbung dan berpendar setelah suara tangis bayi kecil ini tersentak dengan hirupan pertama aroma dunia diantara karbon dan oksigen. Air mata sang ibunda menetes seketika melihat bayi merah itu akan menuliskan prasasti hidupnya kelak, dengan beragam sudut pandang hidup dan sejarah.

Kini, bayi kecil itu telah tumbuh dewasa, tinggi, gagah dan berwibawa. Usianya hampir setengah abad. Banyak pelajaran hidup yang telah ditorahkannya melalui tulisannya, pemikirannya, permasalahan dan kebahagiaannya. Dan semua orang pasti mengenalinya. Ia adalah pecinta sastra seperti sang Bunda (Amma’), seorang pendidik seperti sang Ayah (Bapak), dan seorang pejuang seperti kombinasi kedua orang tua. Berdiri tegak diantara deru kendaraan ibukota, tenggelam dalam lautan karbon dan timbal. Menyusuri setiap jengkal detak jantung kota untuk bertahan hidup dan menghidupi.

15 tahun lalu, kesegaran pemikiran, pengetahuan politik, dan kapabilitas memimpin membawanya kepada kota penuh intrik, Jakarta. Lima belas tahun lalu pula menjadi tonggak berdirinya kesuksesan dan kerja keras yang Ia pancang dari masa kanak-kanaknya, seperti yang pernah Ia ucapkan “Suatu saat nanti, saya akan berada disini, mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia mengendarai mobil saya sendiri”, dan itulah yang terjadi.

131400 jam adalah saksi bisu sejarah yang  Ia torehkan. Sejarah pergumulan hidupnya, permasalahannya, canda dan airmatanya, saat banyak orang datang dan pergi dalam hidupnya.
Ia pernah berkata, “Akhirnya nanti sendiri ma’ saya ini, sampai tua”, namun aku berkata kepadanya,”Papa tidak akan sendiri, Ada Dato’, Ada kami anak-anakmu”.

5475 hari merupakan kunci emas dalam setiap detak hidup yang dijalaninya. Bersama keluarga kecilnya, anak-anak yang dewasa dan lulus kuliah, Ibunda yang selalu mengasihi dan mendoakannya, dan sahabat-sahabat yang selalu membuatnya melupakan sejenak masa-masa sulit yang dilaluinya.

kini Ia menjadi mata sang malam, dalam kesayuan matanya diantara guratan garis wajah dan lingkaran hitam matanya, masih tersimpan sejuta harap, impian dan semangat yang kadang tak mampu Ia ungkapkan, tak seperti kantung matanya yang begitu pandai menyiasati kata waktu. Tak ada lagi tidur cukup, tak banyak lagi masa bersantai. Namun ia selalu tersenyum, saat anak-anaknya berkumpul, berbagi cerita dan bercanda. Mungkin inilah kebahagiaan yang sebenarnya baginya, namun juga kesedihan baginya saat salah satu anaknya harus sakit, terkulai lemas. Namun layaknya kantung mata yang mampu menyiasati hidup, kehalusan kata, kehangatan cinta kasihnya menjadikannya tetap tegar, kuat walau kadang sayap-sayap hidup itu harus patah, dan menunggu untuk kembali dapat dikepakkan.

Dan hari ini, bersama hujan yang mengguyur pergantian jam, aroma tanah basah yang mengisi kelamnya malam, menjadikan pengharapan baru, perubahan baru, untuk segala hal yang lebih baik dan jauh lebih baik.

-Every Years on Your Birthday, you get a chance to start new, Sammy Hagar -

Selamat Ulang tahun Ayahanda tercinta....much love and care.
God gave us the gift of life; it is up to us to give ourselves the gift of living well. -Voltaire 

Senin, 27 September, tepatnya empat puluh tujuh tahun yang lalu. Suara adzan dhuhur menjadi pembuka kehidupan baru bagi seorang bayi mungil dari sepasang suami istri dari sebuah pulau seluas sepuluh ribu kilometer, berpasir putih diujung selatan pulau sulawesi diantara seratus tiga puluh gugusan pulau kecil. Mata kecil itu masih belum bisa terbuka, namun bagi sang guru pencinta laut dan sang ibu pencinta buku adalah sebuah kebahagiaan tak terkira dengan kelahiran putra keduanya ini yang sekaligus menjadi putra tertua setelah putri pertama harus menghadap ilahi.

Terbayangkan bagaimana rasa bahagia menyeruak, membumbung dan berpendar setelah suara tangis bayi kecil ini tersentak dengan hirupan pertama aroma dunia diantara karbon dan oksigen. Air mata sang ibunda menetes seketika melihat bayi merah itu akan menuliskan prasasti hidupnya kelak, dengan beragam sudut pandang hidup dan sejarah.

Kini, bayi kecil itu telah tumbuh dewasa, tinggi, gagah dan berwibawa. Usianya hampir setengah abad. Banyak pelajaran hidup yang telah ditorahkannya melalui tulisannya, pemikirannya, permasalahan dan kebahagiaannya. Dan semua orang pasti mengenalinya. Ia adalah pecinta sastra seperti sang Bunda (Amma’), seorang pendidik seperti sang Ayah (Bapak), dan seorang pejuang seperti kombinasi kedua orang tua. Berdiri tegak diantara deru kendaraan ibukota, tenggelam dalam lautan karbon dan timbal. Menyusuri setiap jengkal detak jantung kota untuk bertahan hidup dan menghidupi.

15 tahun lalu, kesegaran pemikiran, pengetahuan politik, dan kapabilitas memimpin membawanya kepada kota penuh intrik, Jakarta. Lima belas tahun lalu pula menjadi tonggak berdirinya kesuksesan dan kerja keras yang Ia pancang dari masa kanak-kanaknya, seperti yang pernah Ia ucapkan “Suatu saat nanti, saya akan berada disini, mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia mengendarai mobil saya sendiri”, dan itulah yang terjadi.

131400 jam adalah saksi bisu sejarah yang  Ia torehkan. Sejarah pergumulan hidupnya, permasalahannya, canda dan airmatanya, saat banyak orang datang dan pergi dalam hidupnya.
Ia pernah berkata, “Akhirnya nanti sendiri ma’ saya ini, sampai tua”, namun aku berkata kepadanya,”Papa tidak akan sendiri, Ada Dato’, Ada kami anak-anakmu”.

5475 hari merupakan kunci emas dalam setiap detak hidup yang dijalaninya. Bersama keluarga kecilnya, anak-anak yang dewasa dan lulus kuliah, Ibunda yang selalu mengasihi dan mendoakannya, dan sahabat-sahabat yang selalu membuatnya melupakan sejenak masa-masa sulit yang dilaluinya.

kini Ia menjadi mata sang malam, dalam kesayuan matanya diantara guratan garis wajah dan lingkaran hitam matanya, masih tersimpan sejuta harap, impian dan semangat yang kadang tak mampu Ia ungkapkan, tak seperti kantung matanya yang begitu pandai menyiasati kata waktu. Tak ada lagi tidur cukup, tak banyak lagi masa bersantai. Namun ia selalu tersenyum, saat anak-anaknya berkumpul, berbagi cerita dan bercanda. Mungkin inilah kebahagiaan yang sebenarnya baginya, namun juga kesedihan baginya saat salah satu anaknya harus sakit, terkulai lemas. Namun layaknya kantung mata yang mampu menyiasati hidup, kehalusan kata, kehangatan cinta kasihnya menjadikannya tetap tegar, kuat walau kadang sayap-sayap hidup itu harus patah, dan menunggu untuk kembali dapat dikepakkan.

Dan hari ini, bersama hujan yang mengguyur pergantian jam, aroma tanah basah yang mengisi kelamnya malam, menjadikan pengharapan baru, perubahan baru, untuk segala hal yang lebih baik dan jauh lebih baik.

-Every Years on Your Birthday, you get a chance to start new, Sammy Hagar -

Selamat Ulang tahun Ayahanda tercinta....much love and care.

6/30/2012

Titipan Untuk Bunda


Tak pernah terbayangkan olehku diantara tubuh mungilmu tersimpan kekuatan luar biasa. Diantara ceriamu tersimpan perjuangan maha dasyat. Itulah engkau ibu. Bolehku panggil kau Bunda. Dalam 9 bulan masa penantianmu, dalam 36 minggu beban berat menyinggahi, dan 270 hari detik demi detik kau lalui membawaku kemana kau pergi.

Namun bagiku, cukuplah 7 bulan, 24 minggu, dan 210 hari aku berada dalam rahimmu, dan sebuah perjuangan membawaku menghirup aroma dunia. Bayi mungil 26 ons, masih segar, dan masih enggan membuka mata, hanya sekedar untuk menyapamu. Bukan ku tak ingin, tapi aku belum mampu untuk melihat keindahanmu, air matamu, dan kesukacitaanmu. Namun aku merasakan itu. Kau dekap aku erat, tersenyum dan membisikkan syahadat ditelingaku. Dan disampingmu, papa tersenyum diantara air mata kebahagiaannya. Dan suara adzan ashar menjadi penanda kehadiranku.

Hari, jam, detik kau habiskan masamu bersamaku. Menggendongku, menidurkanku, menggantikan baju dan membenarkan letak bantal pengalas kepalaku yang masih rapuh. Engkau begitu sabar, diantara keruwetan yang menghampirimu, sesekali kau tersenyum melihat polah tingkahku yang membuang segala hal didekatku. Atau mengompol dipangkuanmu, sehingga kau tidak bisa sembahyang. Tapi itulah engkau bunda, senyum dan kasihmu tak pernah habis untuk membuatku nyaman bersamamu. Bahkan saat engkau tak lagi bisa memberikanku air susu dan harus digantikan dengan air susu pabrik. "maaf, nak. Bunda tidak lagi bisa memberikanmu ASI".

Walau tanpa ASI darimu namun kasih sayang dan kebahagiaanmu tak pernah pupus untukku. Bhkan saat engkau harus dirumah sakit, senyum bahagiamu melihatku masihlah nampak jelas terlihat dan terasa olehku. Engkau sungguh luar biasa bunda.

Saat usiaku beranjak, saat aku telah merangkak, mengenal benda dan bisa meminta, sedapat mungkin kau memberikannya untukku. Sebuah mainan berbentuk bulat beroda, yang entah apa aku menyebutnya, kau selalu dudukkan aku disana. Dan kau melakukan aktivitasmu. Tapi, engkau selalu berlari kearahku saat terdengar tangisanku terjatuh dari bulatan beroda itu, atau bahkan saat ku jatuh dari tempat tidur yang tingginya lebih dari tinggiku. Diantara tangisku yang menjadi,engkau elus kepalaku, menelisik setiap inci tubuhku memastikan tak ada luka padaku. Dan aku memelukmu erat. Aku ketakutan.

Usiaku semakin bertambah, menginjak 2 tahun engkau memberiku seorang adik laki-laki. Seorang bayi kecil yang beratnya belih dariku saat lahir. Dan dia memang lebih gemuk dariku. Namun, tak ada yang membuatmu membedakan kami. Segalanya sama. Baju tidur, baju pergi, kaos, segalanya sama. Bahkan papa selalu menjahitkan aku dan adikku kemeja yang selalu sama. Rasanya seperti kembar. Namun berbeda. Aku bermata belok dan adikku bermata sipit. Apa yang dimiliki adikku, apu pun pasti memilikinya. Segala hal yang sama itu selalu kami (aku dan adikku) dapatkan hingga menginjak sekolah dasar. Bahkan hingga setelah adik keduaku lahir saat aku berusia 8 tahun dan adikku 6 tahun.

Bunda, aku ingat sebuah kejadian dimana entah berapa usiaku, aku melihatmu dikejauhan, engkau berada disebuah rumah sakit paru-paru sering memeriksakan sakit yang kau derita entah sejak kapan. engkau enggan kami berada didekatmu, kau pun berkata "kalian disana saja sama papa" kau menunjuk jauh diseberang jalan tepat dimana papa terduduk diatas sedel sepedanya dibawah pohon yang cukup rindang, memayungi papa dari terik. Kamipun disana bersama papa menunggumu hingga usai pemeriksaan.

Aku ingat tentang sepeda, sebuah sepeda phoenix berwarna hijau, dengan keranjang berwarna merah tergantung distang, dan boncengan besi dibelakang membawa ku sekeluarga kemanapun. Adikku yang petama duduk di keranjang, aku berdiri dibelakang papa yang siap mengayuh dengan kakiku terikat di leher sedel, dan mamaku dibelakangku menggendong adikku yang baru beusia beberapa bulan. Papa membawa kami ke sebuah studio foto. Mengabadikan kebersamaan kami, masa kanak-kanak kami yang suatu saat nanti dapat menjadi album kenangan kalian. dan sepeda itulah yang membawaku kemanapun pergi hingga aku menginjak SMP kelas 1.

Bunda, sesekali aku melihat tabir lelah dan kerutan diwajahmu, kesusahanmu. Namun engkau selalu mengusap dan tersenyum, menandakan akan banyak harapan didepan untuk kita semua. Sholat malam yang tak henti kau kerjakan. Berjamaah dengan papa, dan menanamkan kesederhanaan dalam diri kami. Adalah hal yang selalu ku ingat. Menyadari diri kita siapa, menerima segala keadaan, tetap berusaha mencukupi segalanya.

Kadang kau pun tersiksa saat kami meminta sesuatu yang belum dapat engkau berikan, atau bahkan engkau merelakan benda berharga milikmu untuk kau jual demi mencukupi kami semua. Siang-malam engkau temani dan bantu papa bekerja lembur menyelesaikan jahitan yang ramai saat musim tahun ajaran baru. Namun kadang aku tak tahu keletihanmu, ku pinta ini dan itu hingga kaupun naik pitam, dan aku menangis.

Selalu segar diingatanku betapa besar kasih sayang yang telah engkau curahkan dalam keadaan apapun. Teringat olehku sebuah kejadian saat aku beranjak remaja. Sebuah perbuatan yang sangat dibenci oleh papa, diketahuinya. Pukulan penggaris kayu bertubi-tubi bersarang dipunggungku, tendangan keras berakhir di kedua kakiku, hingga membuatku lunglai, susah berjalan, ditambah tamparan dan pukulan tangan mengoyak wajahku, dan akhirnya papa menyuruhku pergi dari rumah. Di kemasinya bajuku dan disuruhnya ku pergi. Aku hanya diam, terduduk dikursi kayu, memeluk sarung berisikan bajuku, dan menangis menahan sakit. Namun bunda berlari menghampiriku, memelukku erat sangat erat, ia menangis sambil diusapnya bahu dan kepalaku. "Sudah, ayo masuk, dan janji jangan diulangi lagi perbuatan itu". "jangan suruh masuk anak kurang ajar itu" teriak papa. "pa, sudah. Dia sudah kapok" kata bunda.

Bunda membawaku ke kamar, dibukanya bajuku, dioleskan minyak gosok untuk mengurangi nyeri ditubuhku. Saat seperti ini, saat aku dalam sebuah kesalahan, bunda masih dengan tulus menyayangiku, menghilangkan rasa sakitku, mengusap lembut rambutku dan meminumkan air hangat. Bunda, begitu mudahnya kau memaafkan kesalahanku dan menggantikannya dengan sayang yang berlipat. Itu yang selalu kau lakukan saat papa naik pitam dan menghadapi kejadian yang sama. Pelukanmu dan kesabaranmu yang menjadi obat dari segala sakit yang kurasa.

Hingga akhirnya pun ku putuskan untuk menjalani hidupku sendiri. usai SMA aku meminta ijin dan restu bunda, "bunda, aku tidak mau kuliah. Aku mau kerja dan dijakarta saja aku mau mencoba menjadi model". Itulah keputusanku. "tak banyak bekalmu nak, cuma ini yang baru bisa bunda dan papamu berikan". Bunda memelukku erat, meneteskan air mata rasanya tak ingin melepas anaknya pergi seorang diri. Namun, ini keputusanku, restu bunda dan papa lah tumpuanku. Tak banyak kata malam itu. Selain air mata, doa dan harapan. Lalu bundapun melambaikan tangannya. Sebuah kereta membawaku meninggalkan kota yang selama 18 tahun saksi perjalanan hidupku, membawaku kepada lembaran hidup yang baru.

Akupun dijakarta. Tak banyak masa kebersamaan ku habiskan untuk berkirim kabar. Hanya sesekali SMS dan 5 menit pembicaraan yang akhirnya terputus karena pulsa yang telah habis. Saat itu, biaya komunikasi sangatlah mahal. Aku disibukkan dengan beragam kegiatan yang sering membuatku lupa segalanya, sholat, makan, dan berkabar ke bunda. Hingga lebaran pertama tiba, aku kembali untuk waktu yang sangat cepat. 3 hari saja, dan kemudian aku kembali kejakarta.

Tahun demi tahun ku habiskan waktuku dijakarta. Bunda selalu berkirim kabar untukku. Sesekali ia menangis, rindu katanya, sepi dirumah tanpa adanya aku yang hiper aktif. Aku hanya bosa menjanjikan "nanti" aku pulang. Dan bundapun hanya mengiyakan. Itu yang selalu terjadi, setahun sekali dan singkat. Namun bunda selalu berusahan untuk mengerti keadaanku.

Hingga suatu malam, sebuah pembicaraan terpanjang selama kami berjauhan. Bunda menceritakan yang yang terjadi sebenarnya keadaan dijogja kepadaku. Bunda menceritakan karena aku memaksa. Perselisihan antara bunda dan saudara-saudara perempuannya, dan permasalahan papa dengan saudara-saudaranya. Aku hanya bisa marah, menangis dan menahan emosiku. Saat aku jauh begitu banyak hal telah ku lewatkan, begitu banyak persoalan telah ku sisihkan. Kini mereka seperti mendapatkan musuh dalam selimut, dan aku disini sendiri merasakan getir tanpa mampu melakukan apapun. Namun, bunda selalu berkata "Kamu fokus saja dengan yang ingin kau raih, kami baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan. Insyaallah ada jalan". Itu menjadi satu-satunya penghibur bagi bunda dan diriku. Hingga saat ini.

Saat aku jatuh, sakit, dan tak berdaya bunda selalu ingin ada disisiku, merawatku. Namun bagiku doa bunda adalah obat dan penguat masa kritisku, itu lebih dari cukup bagiku tanpa harus membuatmu tergopoh dan kelelalah disini. Seperti saat ini, saat aku selalu berjuang dengan keadaanku, kesehatanku, pertarungan antara kesadaran dan menahan sakit, doa bunda yang selalu dipanjatkan adalah pintu kekuatanku untuk bangkit dan kuat berdiri lagi. Senyum dan tawa bunda yang selalu membuatku bertahan dalam segala kondisi yang menimpaku.

Bunda, tiada terukur kasih sayang yang kau berikan kepadaku. Tiada tertampung banyaknya doa dan harapan yang kau panjatkan untukku. tapi begitu sedikit yang mampu kuberikan padamu. Hanya potret dan kenangan bersamamu menjadi kekuatan ku untuk bangkit. Senyummu yang membuatku sadar akan luasnya harapan yang dapat kuraih. Keikhlasanmu yang menjadikan lapang jalanku.

Bunda, aku ingin disana, bersamamu, mendekapmu lebih lama, lebih erat, sehinggaku tak lagi takut melewati setiap detik dalam hidupku. Bunda, keluasan kasih sayangmu, ketulusan cintamu, keikhlasan doamu, ingin kuraih semua. Ingin ku bisa membahagiakanmu, memberikan apa keinginanmu, apapun itu, memberikan kebanggaan-kebanggan padamu.

Bunda, Doakan aku, dan teruslah bimbing aku. Aku sangat menyayangi dan merindukanmu.

6/21/2012

RUMATA Artspace Present: Makassar International Writers Festival 2012


Berlokasi di jantung kota Makassar- Sulawesi Selatan, tepatnya Benteng Fort Rotterdam akan diselenggarakan kegiatan festival kepenulisan dibawah Rumah Budaya RUMATA’ Artspace, telah berlangsung selama 5 hari yaitu mulai tanggal 13 – 17 Juni 2012. Kegiatan bertajuk Makassar International Writers Festival 2012 (MIWF) menjadi salah satu kegiatan seni dikota Makassar dan diakui sebagai perayaan kegiataan kepenulisan bagi penulis-penulis lokal maupun international bahkan bagi para pecinta sastra.

Dalam pembukaan Makassar International Writers Festival (MIWF) ini dihadiri oleh Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin yang dengan bangga membuka rangkaian acara tersebut, yang dalam pembukaan MIWF 2012 mengatakan “Saya bangga dengan adanya kegiatan semacam ini di Makassar, menjadikannya sebagai salah satu kegiatan yang menebarkan sastra di kota angin mamiri ini. Mari kita isi udara Makassar dengan indahnya Sastra”. Dalam pembukaan dihadiri pula Founder Rumata’ dan Sekaligus Direktur Makassar International Writers Festival (MIWF), Lily Yulianti Farid, serta Direktur RUMATA’ Artspace Riri Riza.

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 bagi Riri Riza dan Lily Yulianti Farid dianggap menjadi sebuah event penting karena melalui kegiatan ini dapat dijadikan sebagai barometer perkembangan kesusastraan dan kepenulisan di Makassar, serta menjadi ajang saing belajar antar penulis maupun penulis dengan masyarakat sekitar. Menjadi sebuah kebanggaan dapat menjadi bagian dalam menyisir, memupuk, serta menumbuhkan dan melestarikan kegiatan literasi di Makassar dalam skala lebih luas dan umum.

Tamu undangan dari penulis International dan lokal juga memeriahkan rangkaian acara MIWF 2012 selama 5 hari tersebut, diantaranya: Ahmad Tohari (Penulis Makassar), Ahmad Fuadi (penulis Tetralogi Negeri 5 Menara), Akmal N Basran (penulis SangPencerah), Anwar Jimpe Rachman (penulis Puisi dari Makassar), Bernice Chauly (Aktris, penulis, Dosen, Sosialita dari Malaysia), Butet Manurung (Pengajar, Penulis), Elizabeth Pisani (Jurnalis, Penulis, penggagas tata cara sampling HIV/AIDS di PBB, dari London, Inggris), Emil Amir (Makassar), Fauzan Mukrim (Makassar), Jamil Massa (Gorontalo), Jenifer Mackenzie (penulis Puisi dari Melbourne), John H.Mcglynn (USA), Kent MaCCarter (penulis puisi dari Minnesoto-New Mexico menetap di Melbourne), Khrisna pabichara (Penulis buku Sepatu Dahlan), Mochtar pabotingi (Sejarawan), Novi Dwi Djenar (Penulis dan Dosen di Melbourne), Ng Yi Sheng (Novelis dan pemenang penulis termuda dalam The Singapore Literature prize), Nurul Nisa (Makassar), Omar Musa (Penyanyi dan Penulis Puisi dari Melbourne), Fadly “Padi” (Vocalis band Padi), Rini Irmayasa (Novelis, Manokwari), Uthaya Sankar SB (Novelis Malaysia), Wendy Miller (Penulis dan Fotografer dari Melbourne), dan Xu Xi (Penulis Novel Fiksi dari Hongkong).

Rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival 2012 (MIWF) ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan RUMATA’ Artspace dan merupakan kegiatan kali kedua sejak berdirinya RUMATA’ Artspace tahun 2010 lalu. Kegiatan ini menjadi penting selain ragam kegiatan yang akan dan telah dilakukan sepanjang tahun. Penting karena festival ini menjadi sebuah perayaan dan penghargaan terhadap keindahan karya sastra dan literature lokal, nasional maupun internasional. Dengan tema “Tribute to Mattulada” menjadi landasan rangkaian tematik MIWF tahun ini, Mattulada yang seorang penulis buku LATOA yang menjadi grand works, menuliskan tentang analisis antropologi kehidupan politik masyarakat bugis, serta buku penelitian tentang bugis di Asia Tenggara.

Kegiatan yang bersifat gratis untuk umum ini berlangsung selama lima hari berturut-turut dengan beragam kegiatan di berbagai tempat di Makassar. Rangkaian kegiatan tersebut antar lain: Literature in the air yang bekerjasama dengan radio Madama, Puisi dan fotografi berlokasi di Main Hall Fort Rotterdam; Diskusi Makassar Hari ini dan Warisan Intelektual Mattulada; Public lecture tentang HIV AIDS; Diskusi Tales of Two City; launching buku “Sepatu Dahlan”, “Borobudur and Other Poems”, “River’s Notes’;Workshop Sing your Poetry bersama Omar Musa, Yana Millane, Nina Lim dan Fadly “Padi”; Panel Diskusi Don’t Judge The Book by its Movie bersama Ahmad Fuadi;Writing Workshop bersama penulis internasional; The Jungle School; Writters Forum; Kid Corner, Master Class: Write Your Novel Right Now; Community event(pemutaran Film); Writters Tour ke Pulau Lae-lae; Master Class: Poetry Reading Performance bersama Omar Musa dan Ng Yi Sheng; serta banyak kegiatan lainnya.

Dalam setiap akhir hari kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 akan selalu diakhir di halaman Benteng Fort Rotterdam dengan melalui kegiatanCommunity Event: Makassar litweeterature, yaitu penampilan para penulis-penulis dan undangan untuk tampil di panggung menyanyi, membaca puisi, singing the poets, membaca cerita pendek, bernyanyi bahkan menari. Tidak hanya bagi penulis dan tamu saja, penonton yang hadirpun dapat membacakan puisinya dipanggung atau mengirimkan puisi pendeknya melalui twitter yang kemudian bagi para pengirim puisi yang terpilih akan mendapatkan bingkisan menarik berupa kaos Makassar International Writers Festival 2012, Buku para penulis, serta CD dari Omar Musa.

Dimalam penutupan dari seluruh rangkaian kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012, Lily Yulianti Farid dalam sambutan penutupnya mengatakan “Sebuah kebanggaan dapat memulai, mengikuti dan menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ini, karena disinilah tempat kita (Para penulis) merayakan hasil kepenulisaannya. Kebanggaan atas kerja keras tim dalam kegiatan, serta kebahagiaan atas terselesaikannya segala kegiatan tanpa kurang apapun. Karena disini (MIWF- red) adalah tempat bagi orang-orang yang jujur, tulus, dan ikhlas. Namun, tidak hanya berhenti disini, karena akan hadir kembali kegiatan seperti ini ditahun-tahun mendatang sesuai dengan event program tahunan RUMATA’ Artspace, dengan penulis-penulis lain yang lebih beragam”.

Mimpi, Festival, dan Kepenulisan


Istri dari Farid Maruf Ibrahim dan ibu dari fawwaz Naufal Farid ini, merupakan satu sosok perempuan yang tidak pernah ingin berhenti dalam berkarya dan mewujudkan setiap impian-impiannya. Melanglang buana ke berbagai Negara untuk mengikuti ajang festival penulis di dari Paris hingga Ubud, dari Amerika Serikat hingga Sydney telah dilaluinya. Dari menjadi sekedar penulis tamu hingga curator. Kegemarannnya membaca dan menulis telah membawanya pada penerbitan tiga buah seri buku cerita karangannya yang berlatar belakang perempuan di Makassar, Makkunrai (2008), Maisaura (2008), dan Family Room (2010) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan menjadi salah satu cerita dalam kumpulan Modern Library of Indonesia Series oleh Lontar Foundations. Di tahun 2012 ini buku keempatnya “Your Father Is the Moon, You are the Sun” akan segera diterbitkan.

Perempuan yang lahir di Makassar, 40 tahun silam ini merupakan sosok perempuan yang kuat dalam menjalani kehidupan pribadinya maupun karir kepenulisannya. Meninggalkan Indonesia setelah menikah untuk melanjutkan pendidikan di Australia menjadi langkah awal baginya untuk memulai perkembangan dunia kepenulisannya. Pernah menjadi wartawan pada surat kabar Kompas tahun 1996-2000, bekerja di Radio Australia serta tinggal dan bekerja di Radio Jepang – NHK World di Tokyo, columnist pada “Nytid News Magazine” Norwegia 2006 hingga sekarang. Tentu bukan perkara mudah berpindah tempat tinggal setiap 4 tahun bagi seorang Ly dan keluarga. Demi karir dan pendidikan hal tersebut bukanlah halangan baginya yang kini menetap di Melbourne, Australia untuk menyelesaikan studi ke doktorannya (PhD) tentang Gender dan media di University of Melbourne.

Karir jurnalis tidak berhenti hanya di surat kabar dan radio, 1 juli 1996 Ly menerbitkan website berita feature dengan nama panyingkul.com yang merupakan website citizen journalist pertama di Indonesia, dimana penulis berita bukanlah seorang wartawan melainkan masyarakat biasa. Januari 2009 cerita pendek “The Kitchen” mengisi jurnal di Chicago “Words without Border” dan tampil sebagai pembicara dalam “Global Journalism and Organizing” pada konferensi “Women, Action & The Media” tahun 2009 di Cambridge.

Sebagai sosok yang selalu mewujudkan impian-impiannya, Ly yang pandai memainkan piano ini, bersama Riri Riza membangun sebuah rumah budaya di Makassar “RUMATA’ Artspace”. Alasannya adalah karena keduanya merupakan generasi yang sama-sama lahir dan besar di kota angin mamiri tersebut. Keduanya adalah founder (pendiri) yang membuat beragam kegiatan setiap tahunnya seperti Makassar International Writers Festival, SEASCREEN Academy (South East Asia Screen Academy), Sahabat dari jauh, Festival Arena, Lokakarya, Pameran Lukisan dan Fotografi dan lain sebagainya.

Baginya, mimpi adalah sesuatu yang harus dapat diwujudkan bagaimanapun caranya. Dan bagi Ly, mimpi adalah kekuatan yang terus mampu membuatnya berkarya sampai kapanpun.

2/25/2012

1 Tahun Rumata: Fundraising dan Temu Sahabat Rumata’


1 Tahun Rumata’, Fundraising dan Temu Sahabat Rumata’

Bertempat di kantor Daya Desain Indonesia (DDI), kawasan Mega Kuningan Jakarta, kegiatan awal tahun digelar Rumah Budaya Rumata’ pada Jumat, 24 Februari 2012. Kegiatan bertajuk “Ngopi Sore Sahabat Rumata’ bersama Riri Riza dan DDI” ini dihadiri oleh lebih dari 30 tamu udangan, seperti John Mcglynn (Yayasan Lontar), Kasuhiza Matsui (warga Jepang yang peduli pembangunan kebudayaan Indonesia Timur), serta beberapa tokoh dan tamu lain yang memiliki perhatian serius terhadap pengembangan kebudayaan nasional khususnya Makassar ini berjalan meriah dan exclusive, kegiatan ini sekaligus dijadikan moment memperingati satu tahun berdirinya sebuah pusat kebudayaan yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan ini. Acara ini dihadiri juga salah satu pendiri pusat kebudayaan Rumata’, Riri Riza sebagai pembicara utama.

Melalui kegiatan ini pula, Rumata’ menggalang dana sosial dan kerjasama tamu undangan demi terselesaikannya pembangunan pusat budaya Makassar tahap II dan III, serta terlaksananya berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2012 seperti, Beasiswa Seni Budaya Indonesia pada April hingga Juni 2012, dengan memberikan beasiswa kepada 10 orang mahasiswa asing untuk belajar kebudayaan Indonesia di Makasar, yang dilanjutkan dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) pada Juni 2012, Makassar-Southeast Asia Screen Academy, akademi film selama 5 hari bagi pekerja film se-Indonesia Timur pada bulan September 2012 yang akan menghadirkan pengajar dari Asia Tenggara, serta ragam kegiatan lainnya.

Dalam pembukaan “Ngopi Sore Sahabat Rumata’ bersama Riri Riza dan DDI” Riri Riza menjelaskan, “Pada dasarnya saya adalah seorang seniman atau sutradara yang gelisah, karena saya tidak mau hanya membuat film saja melainkan melakukan sesuatu yang lain khususnya untuk Makassar, dan saya bertemu dengan seorang Lily Yulianti yang aktif dengan gagasan-gagasan untuk memajukan Makassar dari sisi seni dan budaya khususnya, akhirnya visi misi kami sama, Jadilah Rumata’”.
Rumata’ merupakan hasil gagasan dan inisiatif Riri Riza (sutradara) dan Lily Yulianti Farid (penulis novel dan cerpen) yang diluncurkan pada 18 Februari 2011 di Makassar melalui kegiatan perdana Makassar adalah Rumata’ yang dilaksanakan selama 4 hari. Sebagai langkah berikutnya menggelar Makassar International Writers Festival 2011pada 13-17 Juni 2011 dengan mengundang penulis-penulis luar seperti Maaza Mengiste (Amerika), Abeer Soliman (Mesir), Gunduz Vassaf (Turki) dan Janer deNeefe (Australia) serta penulis-penulis Makassar.

Dalam mereview perkembangan Rumata’ dari sisi fisik bangunan, Riri Riza menjelaskan “tahap pertama pembangunan Rumata’ yang telah rampung 90 persen yang terdiri dari kantor managemen dan galeri akan dapat digunakan pada bulan maret ini, kemudian disusul dengan pembangunan tahap II berupa area pertunjukan seluas 600 meter persegi “Teater Arena”, Kedai, disusul tahap III pembangunan Wisma”.

Harapan yang ingin dicapai dengan dibangunnya Rumah Budaya ini, akan mampu menjadikan Rumata’ sebagai barometer perkembangan seni dan kebudayaan khususnya di Makassar, dan melalui kegiatan-kegiatan bertaraf internasional tersebut diyakini menjadibenchmark bagi pelaksanaan kegiatan seni dan kebudayaan bertaraf Internasional di Indonesia Timur, Ungkap 

12/05/2011

Sekolah, Baris Berbaris, dan Facebook


Semilir angin malam membawa dingin sisa hujan bersama embun yang perlahan naik diantara dedaunan dan kelam malam. Tanpa bintang, hanya awan hitam menggelayut menutup pendaran cahaya bintang hasil refleksi matahari. Dan tanah basah hasil titik-titik gerimis masih membekaskan jejak ban dan alas-alas kaki.

Entah mengapa kembali mata ini susah untuk dipejamkan kembali.Tak ada yang dilakukan selain menunggu rasa kantuk kembali menghinggap. Tak ada acara menarik dilayar Televisi. pikiranku melayang diantara banyak kenangan dengan orang yang dekat denganku. Suatu kenangan yang entah itu baik maupun sebaliknya. 

kuraih sebuah album foto yang diambil tahun 2000. Sebuah album yang kembali membawaku pada kenangan masa sekolahku. lebih tepatnya saat masa SMA. Album foto kenangan seorang kakak yang mengajarku banyak hal. Seorang kakak yang memberiku banyak motivasi. Tak perlu kusebut siapa namanya, namun banyak hal yang telah ia lakukan selama masa sekolahku yang bisa jadi tak mampu kubalas dengan apapun.

Dia adalah senior ku di masa SMA, berbeda 2 tahun diatasku. Tak sengaja pula aku mengenalnya. Berawal dari pengirim salam dari salah seorang penggemarnya yang menyukai dia, aku mengenalnya. temanku adalah seorang cewek yang bisa dibilang tomboy, tidak memiliki sedikitpun takut kecuali dengan kepala BP. Semakin hari mengenalnya menjadikan banyak hal terjadi. Aku memanggilnya "kak" sebagai rasa penghormatan pada yang lebih tua dariku. 

Sikapnya yang kalem, sangat biasa dan menonjol menjadikannya salah satu kakak kelas yang digandrungi banyak orang. Selain itu, begitu banyaknya teman disekitarnya dan mengenalnya. yah layaknya selebritis. Namun, aku tak ingin membahas itu. Aku ingin menceritakan hal yang selalu mengingatkanku akan sosok dia.

dia seperti kakak kandungku sendiri, banyak hal dilakukannya untuk membantuku. terutama dalam bidang pendidikan. mungkin dia telah lupa atau melupakannya. Satu mata pelajaran yang sering diajarkannya adalah pelajaran yang paling ku benci.Fisika dan Kimia. Hampir setiap ada pekerjaan Rumah aku selalu meminta bantuannya untuk mengerjakannya, maksudnya adalah kakakku ini yang mengerjakannya dan memberikan jawabannya esok harinya. Curang memang. namun, beliau selalu membantuku.

Saat SMA yang aku tahu dia suka dengan bubur kacang hijau dan ketan hitam, hingga pernah beberapa kali aku membawakannya, ya sekedar ucapan terimakasih atas bantuannya, karena tak ada yang bisa diberikan lainnya. Mungkin dialah yang paling berjasa dalam kelulusanku khususnya pada mata pelajaran Kimia dan Fisika. Dan setiap pulang kampung kakak selalu membawakanku empek-empek satu plastik dan kerupuk palembang. 

tibalah pada satu waktu, lomba paskibraka propinsi digelar di UGM untuk pertama kalinya aku meminta bantuan mengantarkanku, karena setiap anggota menggunakan motor dan telah memiliki teman, sedangkan aku sendiri. Sungguh tidak mungkin aku menaiki sepeda untuk mencapai UGM pagi hari. 

Hari minggu pukul 6.30 pagi, anggota paskibraka sekolahku berkumpul di Pendopo Taman Siswa dan harus ada di UGM pada pukul 7 atau selambatnya 8 pagi. kakakku ternyata telah bersiap disana untuk mengantarku, wajahnya masih sangat mengantuk, tapi dia sudah siap. Akhirnya kami menuju UGM, acara ternyata sampai sore.
"Kakak ga apa nunggu sampai selesai?" tanyaku.
"nggak papa santai aja, semangat" jawabnya.

Akhirnya selesai acara tersebut, walau tidak mendapatkan juara namun cukup senang dengan masuk nominasi 10 besar. kamipun pulang. kakak mengantarku hingga rumah dan singgah sementara waktu. 
hal yang sama terjadi untuk kedua kali saat aku dan teman paskibraka sekolah bertanding di Balai Kota, namun kami mendapatkan juara 2 dalam kejuaraan itu, sungguh menyenangkan akhirnya mendapatkan juara dan trophy.

Tahun kedua ku di sekolah adalah tahun yang cukup berat. Tak ada lagi kakakku yang siap membantuku, karena dia harus bersiap dengan penerimaan mahasiswa baru. Satu hal yang menjadi inspirasiku, kata-kata yang tidak pernah ku lupakan di satu sore, saat masa kelulusannya:
"dek, tetap semangat, bikin bangga ibu sama bapak, mas ga bisa nemenin atau bantu, tapi mas doain terus ya, dan adek doain mas juga". 
"Ingat, apapun yang adek lakukan adalah untuk dapat terus membuat bapak sama ibu bahagia, bangga dan trus tersenyum. Karena itu kunci kebahagiaan kita"

Sejak saat itu, lost contact. Hanya menyisakan nomor handphone yang telah berganti berulang kali dan nomor rumah di palembang. Melalui nomor rumah itu aku bisa menemukan kakakku.

kelulusan pun tiba, semua bersorak sorai. Banyak alumni dan senior muncul di sekolah, namun tidak kakakku. Namun, aku berbahagia dengan hasil yang kuraih, dan doa dari kakakku. Sejak itu, hilang. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku dijakarta dan kakak mungkin disibukkan dengan kuliahnya. Pernah dalam jangka 6 bulan atau satu tahun aku berkirim kabar. setelah itu sudah. pernah pada satu masa tahun 2004 aku berlabuh di Palembang untuk sebuah acara, ingin rasanya mencari alamat yang telah sekian lama ku simpan, namun terurungkan karena kegiatan yang menyita waktuku.

Melalui sebuah jaringan sosial akhirnya aku menemukan kakakku, yang ternyata telah menikah dan dikaruniai putra. sungguh berbahagia melihat kebahagiaa itu. Melalui itu pula berkirim kabar, plus jaringan komunikasi nirkabel membantu komunikasi kami.

Ingin rasanya bisa kembali bertemu, bercerita, meluangkan waktu, mengenang masa sekolah lalu suatu hari nanti. Kakak pernah berjanji "nanti insyaallah, kalau ada rejeki kakak akan kejakarta bersama istri. Insyaallah bisa bertemu". Ya, sangat dinantikan masa itu.

Kak, sungguh beruntung telah mengenalmu, sungguh berbahagia telah membagi suka cita bersama
Terima kasih untuk segala bantuannya. Yang tanpa lelah walau kadang kesal membantu kesulitanku.
Bersyukur tiada terkira bisa kembali menyambung silaturahmi yang sempat putus.
Kesederhanaan, kedewasaan, ketulusan, adalah sikap yang selama ini kujadikan contoh darimu.
Terima kasih untuk semua pembelajaran dan inspirasi yang telah diberikan, walau tanpa disadari.
dan masih tersimpan album foto perjalanan kakak ke Bali. ;-)


----sebuah salam rindu adikmu untuk kakak yang jauh diseberang pulau semoga kebahagiaan menyertai kita semua-----
amin.

11/21/2011

Merengkuh Malam di Ujung Utara Jogja


Jogja sudahlah tidak seperti dulu. Ya…hampir segala sesuatunya tergerus oleh alur jaman, namun diantara kerasnya gerusan ombak satu hal yang patut di acungi jempol, pelestarian budaya dan ketetapan memegang adat leluhur masih dipertahankan.

Ada yang berbeda dari Jogja saat ini, saya tidak berbicara tentang perubahan jaman, namun perubahan iklim. Apa yang berbeda, kini dengan semakin banyaknya kendaraan hilir mudik mengisi setiap titik jalan membuat jogja menjadi lebih panas dari apa yang saya ingat waktu dulu, saat saya masih kecil hingga remaja. Namun, jika hari telah senja dan berganti malam, udara akan berubah 180 derajat, udara dingin ditambah angin yang menggoyang ranting dedaunan menjadi penawar terik matahari kala siang. Bahkan terkadang rasa dingin seperti menyusup didalam pori-pori kulit yang secara cepat menggerayangi tulang dan sumsum. Agak berlebihan mungkin, tapi memang itu yang terjadi. Karenanya, akan sedikit orang yang menyisakan malam mereka duduk dan bercengkerama di depan rumah melainkan menutupnya dengan tertidur lebih awal. Seorang teman mengatakan, “ Malam di Jogja berasa malam di Bandung”. Mungkin memang benar pikir saya.

Ingatan saya kembali ke puncak di Jawa barat, yang menyajikan malam dingin nan sejuk bagi para pelancong yang ingin menikmati segarnya udara seusai beraktivitas. Saya tersenyum, karena saya tidak perlu kepuncak untuk mendapatkan segarnya udara dimalam hari dan hangatnya sinar pagi dengan berbaris menyisi kemacetan kala weekend. Disini, saya mendapatkannya.

Pagi ini, ibu membangunkanku, jam masih menunjuk angka 5.30 pagi. Rasanya mata masih susah untuk terbuka, dan saya masih ingin kembali menarik selimut karena udara masih cukup dingin. Namun, mata saya langsung terbuka setelah mendengar ajakan ibu. Ibu mengajakku menuju sebuah kawasan pegunungan dan perbukitan di Utara Jogja, pikiran saya langsung tertuju pada sebuah area objek wisata Kaliurang yang terletak di kaki gunung Merapi, jaraknya sekitar 28 km dari pusat kota Jogja. Tentu saya sangat senang dengan ajakan itu, lebih dari 9 tahun saya tidak berkunjung kesana, terakhir saat perpisahan dengan teman-teman SMA seusai pesta perpisahan di Sekolah. Ibu pergi bersama teman-teman PKKnya, sedangkan saya mengajak paksa teman untuk menemani saya kesana.

Perjalanan menuju objek wisata kaliurang mengingatkan saya pada gambaran pemandangan saat duduk dibangku TK maupun Sekolah Dasar. Sebuah gunung menjulang ke angkasa, dengan jalanan berkelok ditengahnya serta hamparan hijau pepohonan disekitarnya, serta petakan-petakan sawah dan rumah-rumah kecil diantara jalan yang berliku.

Udara sejuk dengan angin semilir menyapa perjalanan saya, bau dedauan, tanah basah, kabut putih menjadi obat yang mampu merecharge kepenatan menjadi kesuka citaan. Saya jadi teringat dengan asal muasal objek wisata tersebut, sekitar abad 19 sekelompok ahli geologi Belanda yang bertugas dan tinggal di Jogja bermaksud mencari sebuah area peristirahatan bagi keluarganya, keluarga para meneer. Sesampainya mereka di area dataran tinggi kaliurang, sekitar 200 meter diatas permukaan laut para ahli ini terpesona dengan keindahan alam, kesejukan tempat tersebut. Akhirnya mereka membangun bungalow atau penginapan sebagai tempat peristirahatan mereka disana.

Akhirnya saya sampai di area wisata Kaliurang butuh waktu kurang dari satu jam cukup cepat saya rasa. Kaliurang menjadi salah satu area wisata yang sangat banyak diminati, terlihat beragam huruf pada plat kendaraan yang singgah untuk menikmati keindahan alam, ada T, B, H, DD, F dan masih banyak lagi yang saya tidak tahu dari kota mana kode plat tersebut. Pandangan saya langsung tertuju pada gunung Merapi, kabut menutup sebagian badan gunung, seperti selendang putih yang menutupi badan seorang gadis yang malu apabila ada yang mengunjungi. Merapi juga membawa memory saya pada kejadian 26 Oktober tahun lalu, sebuah kejadian luar biasa, dimana Merapi menunjukkan keperkasaannya, kemarahannya, keagresifannya, dan meluluh lantahkan area disekitarnya, dan menewaskan puluhan warga yang tidak sempat atau enggan meninggalkan rumah mereka, termasuk seorang juru kunci, Mbah Maridjan. Tidak hanya warga yang menjadi korban, ratusan ternak, padi siap panen menjadi korban kemarahan gunung paling aktif tersebut.

Saya berpisah dengan Ibu, saya berjalan menyusuri sisi barat Kaliurang, tepatnya di bukit Plawangan sekitar 1100 meter sisi barat. Menempuh jalan terjal berliku, menjadi sensasi tersendiri layaknya para pecinta alam yang ingin menakhlukan gunung. Disini saya melihat sekitar 22 buah gua peninggalan Jepang. Hmm..Belanda dan Jepang pernah menginjakkan kaki mereka disini pikir saya. Sejuk udara tidak membuat saya merasakan teriknya siang hari, rerimbunan pohon menjadi tameng alami bagi saya dan para pengunjung lainnya.

Seusai cukup puas saya menikmati sisi barat, saya kembali ketimur, tepatnya timur laut kaliurang. Sebuah air terjun alami yang disebut dengan telaga Putri yang terletak di taman Plawangan Turgo menjadi area yang menarik bagi pengunjung dan saya tentunya karena saya bisa merasakan derasnya pukulan air terjun yang berasal langsung dari mata air dilereng bukit Plawangan. “Segaaarrr” pekik saya. Mengabadikan moment dengan foto diair terjun atau didepannya menjadi keharusan bagi pengunjung.  Sekarang saya sudah basah kuyup. Teman saya hanya tersenyum melihat tingkah saya, bak wisatawan yang baru menikmati kaliurang dan mandi di Telaga Putri.

Sambil mengeringkan baju dan celana yang masih saya kenakan, saya berjalan ke arah timur. Di Puncak Pronojiwo. Perjalanan melewati tangga dari susunan batu kali membentuk tangga berundak sejauh 900 meter cukup melelahkan, namun terobati dengan pemadangan yang hijau disisi tangga, dihiasi suara kicau burung dan monyet-monyet yang bergelantungan dari dahan ke dahan menyaksikan pengunjung kelelahan menikmati perjalanan mereka. Seorang wanita penjaja minuman menawarkan saya minuman ada hangat ada pula yang dingin, sebagai pelepas dahaga saya membelinya, cukup mengisi energi saya kembali. Akhirnya saya sampai di puncak. Ahh…ada teropong. Saya ingin sekali melihat Merapi lebih dekat, dengan membayar 3000 rupiah saya menyewa teropong untuk 30 menit. Dan wow…indah sekali, namun dibalik keindahannya tersimpan sesuatu yang luar biasa berbahaya.

Menutup pejalanan saya, saya menyusuri lembah nan menawan yang menyuguhi saya sebuah jalur sungai “Kali Kuning” dan sisi barat disebut “Kali Boyong”. Dikali kuning ini biasa dijadikan area perkemahan oleh masyarakat khususnya para siswa sekolah menengah. Dikedua kali ini yang membelah dua sisi Merapi juga menjadi jalur utama lahar gunung Merapi yang menuju ke selatan, saya dapat menyaksikan batu-batu besar, kerikil sisa keganasan Merapi tahun lalu.

Hari semakin senja, ibu mengajak saya dan teman saya menyudahi perjalanan kami, namun rasanya saya masih enggan beranjak meninggalkan kemolekan alam Kaliurang. Saya memutuskan untuk menginap satu malam disini, dan Ibu kembali ke Jogja bersama teman-teman PKKnya.

Sayapun menyusuri area kaliurang mencari tempat penginapan atau bungalow, saya menyewa sebuah penginapan “Bukit Surya” dengan harga yang sangat murah. Disini setahu saya, ada beragam penginapan dengan beragam harga mulai 25 ribu hingga 200 ribu rupiah. Disebuah kamar yang langsung menghadap ke Merapi dengan sedikit teras dan sepasang kursi menjadi tempat saya menghabiskan malam.

Hari mulai gelap, malam menyambut, dan angin malam mulai merengkuh setiap inci tubuh, segelas sekoteng atau air jahe ditambah sebungkus rokok menjadi teman yang paling pas untuk melewati malam. Terdengan alunan gitar dan nyanyian para anak muda dari kejauhan membuat saya teringat akan pesta perpisahan dengan teman sekelas saya. Sebuah penginapan dengan 6 kamar tidur dan 3 kamar mandi dihuni oleh lebih dari 30 orang siswa, sebuah halaman luas dengan taman kecil, dimalam harinya kami membuat api unggun, bernyanyi disekitarnya, mengalunkan lagu dengan beberapa gitar, bercanda, tertawa, mengenang 3 tahun kebersamaan bersama segelas kopi ataupun sekoteng. Sebuah permainan yang saya ingat waktu itu, tebak gerak, dimana kami terbagi dalam 2 grup salah satu dari masing-masing grup mempraktekkan sebuah gerak dan anggota grup lain menebaknya jika salah grup yang menebak harus menari bersama-sama. Kebersamaan itu diakhiri dengan lagu yang selalu dinyanyikan saat sebuah perpisahan hadir “kemesraan” semua bernyanyi semua bersedih, bahkan menangis. Mengingat esok masing-masing kami sudah tidak bertemu kembali. Ada kenangan bahagia, saat yang berpacaran membagi malam mereka bersama, ada pula yang bersedih karena cintanya ditolak, termasuk saya, hehehe…sebuah kenangan yang enggan untuk dilewatkan. Namun, kesedihan utama adalah ketika pagi ini menjadi pagi terakhir kamu bersama-sama duduk didalam kelas, tertawa, berantem, menangis, merokok disamping kelas, adu panco, lomba antar kelas dan lainnya. Yah…siapa yang ingin melewatkan kenangan indah itu?.

Saatnya kembali. Hari telah pagi, saya meninggalkan penginapan untuk segera kembali ke Jogja dan rumah. Kembali menyusuri jalan yang berliku berhiaskan pepohonan dan angin segar nan dingin yang menyusup ke pori-pori bersama kabut pagi yang enggan beranjak menutup malam menjadi hangat sinar mentari pagi. Oh iya, ada yang saya lupa untuk membagi cerita, di Area kaliurang terdapat banyak sekali bangunan bersejarah antara lain, wisma Kaliurang dan Pesanggrahan Dalem Ngeksigondo milik Keraton Jogjakarta yang pernah menjadi tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara, ada pula Museum Ullen Sentalu dimana sebagian bangunannya berada didalam tanah.di museum ini menguak sebuah sejarah besar tentang misteri kebudayaan dan nilai-nilai sejarah Jawa terkhusus berhubungan dengan Puteri Kraton Jogjakarta dan Surakarta pada abad 19. Satu lagi, mengapa disebut kaliurang?  Dalam bahasa Jawa Kali berarti Sungai, dan Urang berarti Udang jadi secara harfiah disebut “Sungai udang”.
Kini saya kembali ke Rumah, perasaan bahagia dengan pemandangan optikal yang telah saya rekam dan flash back dari kenangan masa lalu memberikan kembali pelajaran berharga bagi saya. Sedih, suka cita, tawa bahagia, tangis pernah saya tinggalkan disana bersama teman dan sahabat saya. Ingin kembali kesana nantinya untuk kembali mereview rekam optik saya dan menambahkan dengan rekaman yang baru.


Kaliurang.
Satu Malam sebelum kembali Ke Jakarta