Mempertanyakan CINTA?
mengutip sebuah kalimat "Cinta yang pandai mencederai" adalah kalimat yang pantas untuk goresan-goresan bait ini. Disaat cinta itu menggoreskan kenangan indah manusia terlena oleh keindahan dan ke maslahatan cinta itu tanpa peduli apa yang ada disekitarnya. Semua terasa Indah dan menyenangkan, menciptakan fatamorgana yang begitu mempesona jiwa. Hidup serasa melayang diantara ketidakseimbangan dunia karena yang terasa hanyalah kilauan perasaan yang mengalir dengan syahdu dan menjadikannya susah untuk dilupakan.
Mengapa cinta begitu indah dan begitu diagungkan? padahal belum tentu mengerti apa itu cinta yang sebenarnya. Apa itu cinta? orang berkata "aku mencintaimu dengan seluruh hatiku", apakah cinta itu ada di dalam hati? karena logika berkata yang ada dihati hanya sebongkah daging yang berfungsi sebagai sistem ekskresi yang membantu ginjal, bukan cinta itu. lalu dimana letak cinta itu? tak satu orang pun bisa menjawabnya, karena cinta itu sesuatu yang absurb. Karena "mungkin" cinta itu hanyalah sebuah hasrat yang muncul karena pola pikir yang di masuk kedalam otak melalui rangsangan yang diolah oleh otak hingga menimbulkan image yang dikirimkan kembali melalui sikap dan perilaku.
kembali kepada kutipan itu, saat cinta yang agung dan diagungkan itu mulai luluh, dan menghilang serta mampu mencederai apa yang orang lakukan untuk itu? hanya satu "Mempertanyakan kembali apakah kau masih mencintaiku?". Rasa kehilangan, rindu, kangen, akan masa-masa lalu yang indah muncul, mengapa muncul? dari mana munculnya? dari hati?jantung? atau hanya sebuah hasil olahan pemikiran?. mungkinkah Albert Einstein bisa menjawab apa yang disebut Cinta? Shakespear yang Agung mampu memecahkan kata yang Agung itu?.
Manusia begitu terlena dengan apa yang disebut cinta. tanpa tahu apa dan bagaimana asal muasal cinta itu muncul yang terpenting adalah "AKu merasa cinta sama dia", "Kita Putus", "Maaf Aku merasa kehilangan kamu, balikan yuk, aku janji akan melakukan yang terbaik dan tidak menyakitimu lagi". Semudah itukah menyatakan Cinta dan mengibakan Cinta?. Hanya orang "Bodoh" yang mengagungkan agungkan Cinta hingga pada batas tidak bisa melupakan dan menginginkan kembali. Begitu mudahnya cinta itu ada dan pergi, begitu mudahnya cinta itu menciptakan keindahan dan mencederai.
Mempertimbangkan CINTA?
Pikiran menciptakan rangsangan untuk mengungkapkan perasaan. Pikiran Jugalah yang menciptakan perasaan menyakitkan. Jika Cinta itu tidak tahu asalnya bagaimana bisa mengungkapkan dan mampu menyakiti?. Seluas laut cinta ini untuk mu, pikiran yang sungguh aneh dan tidak masuk akal jika ada peryataan demikian, bukan?. Apakah cinta itu hanya untuk lawan jenis? apakah cinta itu tidak ada untuk orang lain?. CInta adalah menyayangi. cinta bukan untuk memiliki atau dimiliki karena cinta itu muncul dari perasaan tertarik yang diproses untuk diapersiasikan dalam kata dan perbuatan.
lalu, apakah kita bisa menjawab dari peryataan dan pertanyaan Cinta itu? hingga kepada keinginan untuk memiliki, dimiliki, sampai pada titik menyakiti dan mencederai dan menginginkan kembali? rasionalitas hilang saat semua itu muncul.
Dunia Dalam Satu Tapak atau World in One Hand, is the Personalweb, Who i've made. This is tells about favorite Routine like Cooking (on my other blog : http//dekatrumahkitchen.wordpress.com),Traveling,and also you can find my short story. so, enjoy it.
1/23/2011
Mencoba mengartikan antara bahagia dan kebahagiaan
Mencoba mengartikan antara bahagia dan kebahagiaan
Langit malam Jakarta temaram tanpa bulan dan gemerlap bintang. Udara panas nan lembab berbaur dengan dingin malam. Disebuah hotel di kawasan Gatot Subroto dengan iringan nada-nada indah nan syahdu dari denting-denting piano membawaku pada sebuah pemikiran yang menurutku aneh. Mempertanyakan dua hal yang mirip tapi tidak sama. Ingin rasanya mengerti dan memaknai dua kata itu, karena bagiku hal itu tidaklah sama dan serupa. Kata dasar dan kata berimbuhan ke-an. Aku teringat pada masa-masa kanak-kanak dimana banyak hal ingin dimengeti dan selalu dipertanyakan. Semisal mengapa mama bahagia? Apa itu bahagia? Bagaimana mama bisa bahagia?. Sungguh pertanyaan polos yang susah untuk dapat dijelaskan.
Bahagia,
Apa arti kata itu, senang. mungkin. Orang merasa bahagia saat menyatakan, memperoleh, menemukan sesuatu. Tapi, bagaimana dan asal bahagia itu? Indera manakah yang bisa menyatakan rasa bahagia itu?. Bingung dan membingungkan saat harus menerangkan arti bahagia. Aku merasakan bahagia dengan apa yang ada, namun mengapa rasa itu tumbuh. Sungguh sulit dimengerti mengapa rasa itu tumbuh?. Luapan kegembiraankah? Atau hanya perasaan sekilas yang lambat laun akan hilang dan pupus hingga sebuah stimulus memunculkan kembali rasa itu. Rasa? Rasa muncul karena adanya hal menyentuh dalam salah satu atau lebih indera manusia. Apakah rasa bisa menjadikan salah satu acuan menyatakan bahagia atau rasa hanyalah sebuah ekspresi?. Pernahkah seorang filsuf-filsuf seperti aristoteles, Socrates, plato berpikir dan mampu memecahkan sebuah bingkai tabir bahagia?. Tidak, belum tentu. Susah. Pasti.
Malam semakin larut, Akupun masih larut dalam kedangkalan pikiranku terhadap keinginan untuk mengetahui apa yang para filsuf selalu ingin ketahui, walau Aku bukan seorang filsuf. Hanya anak seperempat abad yang berusaha mencari makna-makna kata yang tak terdefinisikan bersama waktu menungguku. Aku mulai menanyakan dua kata itu kepada ayahku, entahlah beliau yang biasanya adalah kamus, library, bagiku yang mengerti dan mengetahui apa yang aku Tanya juga bingung dalam mendeskripsikannya.
Kebahagiaan,
Kebahagiaan kata berimbuhan ke-an terbentuk dari kata dasar “bahagia”. Aku dan banyak orang pasti mengatakan itu adalah ekspersi yang tercermin saat kita merasa bahagia. Orang yang melihat dan menyimpulkan apakah kebahagiaan muncul dan Nampak dari aneka ragam wajah. Seperti banyak kalimat terucap dari orangtua, kebahagiaan orang tua adalah saat melihat anak-anaknya sukses. Ekspersi? ya. Mungkinkah kebahagiaan itu dapat disembunyikan? Bisa. Apakah kebahagiaan itu tulus? Belum tentu. Mungkin hanya ingin memperlihatkan image atau kesan untuk orang lain.
Malam semakin sunyi, deru kendaraan di Gatot Subroto semakin lirih terdengar. Satu per satu kendaraan melintas kembali ke gubuk pemberhentian terakhir. Dan aku masih memikirkan hal sepele untuk mencari makna dua kata itu. Mengapa begitu penting dua kata itu dalam kehidupan manusia? Mungkinkah dua kata itu akan didapatkan utuh setiap orang? Seberapa jauhkah hal itu akan bertahan?. Mungkin hanya kita yang tahu…
KSA – Jakarta, 17 Agustus 2009
Langit malam Jakarta temaram tanpa bulan dan gemerlap bintang. Udara panas nan lembab berbaur dengan dingin malam. Disebuah hotel di kawasan Gatot Subroto dengan iringan nada-nada indah nan syahdu dari denting-denting piano membawaku pada sebuah pemikiran yang menurutku aneh. Mempertanyakan dua hal yang mirip tapi tidak sama. Ingin rasanya mengerti dan memaknai dua kata itu, karena bagiku hal itu tidaklah sama dan serupa. Kata dasar dan kata berimbuhan ke-an. Aku teringat pada masa-masa kanak-kanak dimana banyak hal ingin dimengeti dan selalu dipertanyakan. Semisal mengapa mama bahagia? Apa itu bahagia? Bagaimana mama bisa bahagia?. Sungguh pertanyaan polos yang susah untuk dapat dijelaskan.
Bahagia,
Apa arti kata itu, senang. mungkin. Orang merasa bahagia saat menyatakan, memperoleh, menemukan sesuatu. Tapi, bagaimana dan asal bahagia itu? Indera manakah yang bisa menyatakan rasa bahagia itu?. Bingung dan membingungkan saat harus menerangkan arti bahagia. Aku merasakan bahagia dengan apa yang ada, namun mengapa rasa itu tumbuh. Sungguh sulit dimengerti mengapa rasa itu tumbuh?. Luapan kegembiraankah? Atau hanya perasaan sekilas yang lambat laun akan hilang dan pupus hingga sebuah stimulus memunculkan kembali rasa itu. Rasa? Rasa muncul karena adanya hal menyentuh dalam salah satu atau lebih indera manusia. Apakah rasa bisa menjadikan salah satu acuan menyatakan bahagia atau rasa hanyalah sebuah ekspresi?. Pernahkah seorang filsuf-filsuf seperti aristoteles, Socrates, plato berpikir dan mampu memecahkan sebuah bingkai tabir bahagia?. Tidak, belum tentu. Susah. Pasti.
Malam semakin larut, Akupun masih larut dalam kedangkalan pikiranku terhadap keinginan untuk mengetahui apa yang para filsuf selalu ingin ketahui, walau Aku bukan seorang filsuf. Hanya anak seperempat abad yang berusaha mencari makna-makna kata yang tak terdefinisikan bersama waktu menungguku. Aku mulai menanyakan dua kata itu kepada ayahku, entahlah beliau yang biasanya adalah kamus, library, bagiku yang mengerti dan mengetahui apa yang aku Tanya juga bingung dalam mendeskripsikannya.
Kebahagiaan,
Kebahagiaan kata berimbuhan ke-an terbentuk dari kata dasar “bahagia”. Aku dan banyak orang pasti mengatakan itu adalah ekspersi yang tercermin saat kita merasa bahagia. Orang yang melihat dan menyimpulkan apakah kebahagiaan muncul dan Nampak dari aneka ragam wajah. Seperti banyak kalimat terucap dari orangtua, kebahagiaan orang tua adalah saat melihat anak-anaknya sukses. Ekspersi? ya. Mungkinkah kebahagiaan itu dapat disembunyikan? Bisa. Apakah kebahagiaan itu tulus? Belum tentu. Mungkin hanya ingin memperlihatkan image atau kesan untuk orang lain.
Malam semakin sunyi, deru kendaraan di Gatot Subroto semakin lirih terdengar. Satu per satu kendaraan melintas kembali ke gubuk pemberhentian terakhir. Dan aku masih memikirkan hal sepele untuk mencari makna dua kata itu. Mengapa begitu penting dua kata itu dalam kehidupan manusia? Mungkinkah dua kata itu akan didapatkan utuh setiap orang? Seberapa jauhkah hal itu akan bertahan?. Mungkin hanya kita yang tahu…
KSA – Jakarta, 17 Agustus 2009
Spicy Fishball and Egg Soup by Kian Savero
Bahan dan Bumbu
30 butir bakso ikan
10 butir telur rebus kupas
4 batang daun bawang
2 buah tomat, potong dadu
2,5 liter air
3 siung bawang putih memarkan
2 cm jahe, memarkan
5 gram kaldu sapi bubuk
4 buah cabe merah besar potong menyerong
garam secukupnya
minyak goreng untuk menumis
cara memasak:
1. siapkan panci masak, tuangkan minyak goreng, masak bawang putih hingga wangi.
2. tambahkan air, kaldu bubuk, jahe, cabe, dan garam. didihkan
3. masukkan bakso ikan dan telur rebus. masak hingga bakso mengembang dan matang.
4. masukan tomat, daun bawang, masak.
5. jika semua telah matang angkat dan sajikan.
copyright@kiansavero
Sup Ikan Bumbu Pedas by Kian Savero
Bahan:
1 ekor ikan tongkol, potong kecil(sedang) sesuai selera
100 gram jamur tiram coklat
1 batang daun bawang
2 buah tomat merah
1 liter air
3 buah cabe merah potong serong
Bumbu:
2 siung bawang putih
4 sendok makan royco cair
garam secukupnya
merica secukupnya
minyak untuk menumis dan menggoreng
Cara membuat:
1.Goreng potongan ikan tongkol, sisihkan.
2.Tumis bawang merah kedalam panci masak hingga harum.
3.Tuangkan air, garam, dan royco cair, merica, didihkan.
4.masukkan ikan tongkol yang telah digoreng.
5.Masukkan jamur, tomat, daun bawang, dan cabe merah. masak hingga matang.
6.Angkat dan Sajian
copyright@kiansavero
Mezza Penne Chicken with Fresh Orange and Baked Potato
bahan:
500 gr Mezza Penne
2 pack boneless Breast, cut dice
1 pcs bawang Bombay
4 pcs Bawang Putih, potong kecil-kecil
20 gr Peterseli
1 pcs red Paprika, cut dice
500 ml Milk Creamer
Salt
Paper
15 buah Shantang orange, Kupas Jeruk Shantang, bersihkan kulit arinya.
10 pcs Kentang
250gr Mozarella
100 gr Chesee Cheddar
cooking:
1. masak mezza penne selama 20 menit, sampai cukup matang. sisihkan.
2. Masak Kentang hingga setengah matang, sisihkan.
3. Belah vertikal dan horisontal kentang membentuk (X) tekan kedua sisi hingga kentang terbuka masukkan mozarella cheese. panggang 15 menit.
3. Tumis bawang Bombai, bawang putih hingga wangi.
4. Masukan paprika, ayam yang dipotong dadu, garam dan lada secukupnya masak hingga matang.
5. Masukkan creamer aduk hingga merata. masak hingga mendidih dan kental.
6. Matikan api dan masukkan shantang orange yang telah dibersihkan. aduk sebentar.
7. siapkan piring saji, atur Mezza penna, tuangkan saus diatasnya dengan baked potato di sampingnya.
8. Sajikan.
500 gr Mezza Penne
2 pack boneless Breast, cut dice
1 pcs bawang Bombay
4 pcs Bawang Putih, potong kecil-kecil
20 gr Peterseli
1 pcs red Paprika, cut dice
500 ml Milk Creamer
Salt
Paper
15 buah Shantang orange, Kupas Jeruk Shantang, bersihkan kulit arinya.
10 pcs Kentang
250gr Mozarella
100 gr Chesee Cheddar
cooking:
1. masak mezza penne selama 20 menit, sampai cukup matang. sisihkan.
2. Masak Kentang hingga setengah matang, sisihkan.
3. Belah vertikal dan horisontal kentang membentuk (X) tekan kedua sisi hingga kentang terbuka masukkan mozarella cheese. panggang 15 menit.
3. Tumis bawang Bombai, bawang putih hingga wangi.
4. Masukan paprika, ayam yang dipotong dadu, garam dan lada secukupnya masak hingga matang.
5. Masukkan creamer aduk hingga merata. masak hingga mendidih dan kental.
6. Matikan api dan masukkan shantang orange yang telah dibersihkan. aduk sebentar.
7. siapkan piring saji, atur Mezza penna, tuangkan saus diatasnya dengan baked potato di sampingnya.
8. Sajikan.
11/29/2009
Fly Me To The Moon
Ini awal aku
masuk kampus yang baru, suasana baru, teman baru, segalanya serba baru. Kampus
ini menurutku sangat menyenangkan dengan arsitektur yang bergaya Eropa dan
Jepang sangat menarik. Tinggal di asrama kampus dengan lebih dari 100 mahasiswa
dan mahasiswi dengan beragam karakter, tapi semua merasa berbeda dengan ku, aku
bukan sosok yang sama dengan mereka yang selalu tertawa bercanda, sedang aku
selalu habis dengan buku dan buku juga race dan kelahi. Semua orang menilaiku
orang yang cepat marah, dan sangat mengerikan saat marah, menyebalkan dan
badung.
Ada Seorang
gadis yang menarik perhatianku yang entah aku tidak tahu namanya, dia sosok
yang pendiam dan pemalu tapi sangat menarik buatku. Aku selalu memperhatikannya
setiap istirahat di kantin, selalu berdua dengan temannya yang jauh berbeda
dengannya bahkan mungkin kebalikannya.
“ Merhatiin sapa
sih serius banget?”
“ Gadis di
ujung itu” tunjukku.
“ O… itu, emang
kenapa lu suka? Mending Farah aja, dah cantik tajir lagi, dari pada dia selalu
jadi omongan dan sering di kerjain anak-anak”
“ Lu nyindir
gue” tanyaku menyelidiki.
“ Jangan salah
sangka dulu gue ngga maksud gitu”
“ Sapa sih dia?”
tanyaku lagi.
“ Namanya Ciara,
dia ngga tinggal di asrama kampus ini, bisa dibilang dia anak kurang mampu dia
disini karena beasiswa, dia anak tunggal dan papanya dah lama meninggal jadi
dia Cuma tinggal sama nyokapnya” jelasnya.
“ Lu tahu banyak
tentang dia, jangan-jangan….”
“ Semua anak
kampus sini juga tahu, karenanya dia selalu jadi bahan olok-olokan di kampus
ini” tambahnya.
“ Mau bantu gue
ngga?”
“ Apa an?”
balasnya.
“ Cariin segala
informasi tentang dia” jelasku.
“ Lu gila ya
semua kan udah gue ceritain apa lagi? Masih kurang….”
“ Pokoknya
cariin ok?”
Aku pergi
meninggalkan Philip kembali ke kelas, iseng aku lewat depannya saat makan, dan
dia tetap diam hanya temannya yang senyum-senyum melihatku saat itu.
“ Ra’, lu liat
cowok barusan ngga? Ganteng ya, katanya dia anak baru di kampus ini, baru
pindah dari Broklin, pasti pintar deh bahasa inggrisnya”
“ Ra’ lu denger
ngga sih?”
“ Iya gue
denger, emang kenapa apa peduli, mau baru lama cowok kampus ini sama saja
menyebalkan dan suka menyakiti yang tidak selevel” jawabnya cuek.
Selesai kelas
aku ingin sekali jalan keluar kampus menikmati udara bebas kota besar diluar
sana pasti menyenangkan. Tapi saat aku terlena dengan angan itu Philip datang
terengah-engah.
“ Rio, gawat
bener-bener gawat, cepet ikut gue” ajaknya
“ Apaan sih lu
kenapa? Bingung kaya ada gempa aja” tanyaku bingung.
“ Ciara”
Aku tersentak
mendengar nama itu.
“ Kenapa dia?”
tanyaku bingung.
“ Dia dihajar
kelompok Hitam di parkiran”
“ Apa?”
Tanpa
mempedulikan reaksi Philip aku langsung lari ke tempat tersebut. Sungguh tidak
dapat aku percaya dengan apa yang aku lihat.
“ Beraninya
sama cewek, dasar banci” terik ciara menahan rasa sakit.
“ Bug..buG..
Bug…”
“ Salah apa gue
sama kalian semua?”
“ Banyak omong
anak miskin kaya lu ngga pantes ada di kampus elit ini…..” jawab salah satu
dari mereka.
Aku melihat
Ciara semakin tidak berdaya dengan baju yang kotor dan sobek, aku lari
menghampiri dan ….
“ Hei…..”
perkelahian pun tidak terelakkan lagi. Sekali- dua kali berkali-kali wajah ini
terkena pukulan mereka, tapi tidak seperti yang mereka dapatkan.
Cukup lama kami
berkelahi, mereka memilih mengalah dan berlari.
“ Hei!! awas
sekali lagi mengganggu dia kalian akan tahu akibatnya” teriakku.
“ Hei lu ngga
papa?” tanyaku sambil membantunya berdiri.
“ Kenapa lu
bantu gue? Lagi pula kita ngga saling kenal, udah biasa lagi gue, malah
sekarang lu yang babak-belur”
“ Udah ngga
papa, lu Ciara kan? Anak sastra?”
“ Darimana lu
tahu” tanyanya penasaran sambil menahan rasa sakit akibat dikeroyok.
“Udah ngga usah
dibahas, sekarang lu pakai jaket gue, gue antar pulang”
“ Tapi….”
Aku melarikan
motorku dengan sedikit senang karena dibelakangku ada gadis yang aku suka.
“ Makasih udah
nganter dan nolong”
Aku hanya
senyum. Tiba-tiba mama Ciara muncul dihadapan kami.
“ Ya ampun Ara?
Kamu kenapa? Hei apa yang kamu lakukan terhadap anakku?”
“ Sa..sa..saya…”
jawabku gugup.
“ Bu, dia yang
telah nolong aku dari perbuatan anak-anak itu, malah dia yang juga minjemin
jaketnya” jelasnya. Ibunya hanya bilang “ Oooo….”
“ Ya udah kalo
gitu gue balik….”
Aku hanya
melihatnya mengangguk tanpa ada reaksi yang lain. Jujur aku merasa sangat
senang hari ini walau dengan keadaan yang penuh luka sekalipun.
Seminggu tanpa
terasa cepat berlalu, tiada yang istimewa setelah kejadian itu. Aku hanya
menyimpan semua dalam hati, walau kadang tersenyum sendiri mengingat semua
kejadian waktu itu apalagi setelah itu aku sama sekali tidak bertemu dengannya.
Hanya Philip yang selalu memperolok aku saat aku mengenang kejadian itu.
“ Ra, teman kamu
itu baik ya, dah nolongin nganter pulang lagi, ibu yakin pasti dia anak baik
ngga seperti temen cowok kamu yang lain”
“ Maksud ibu…..
Rio?”
“ Kok senyum
bu?”
“ Bu, Ara sama
sekali ngga kenal siapa dia, tahu orangnya aja juga waktu itu aja. Mungkin aja
waktu itu kebetulan aja, jadi ibu jangan berpikir macam-macam ya…..”. Ciara
meninggalkan ibunya dengan senyum simpulnya yang sangat manis. Ibu hanya
tersenyum. Tiba-tiba Ciara lari keluar kamarnya.
“ Ya ampun bu,
ada yang Ara lupa….”, Ibu yang tahu kejadian itu semakin bingung melihat
kekonyolan Putrinya itu.
“ Apanya yang
lupa?”
“ Jaket… yah
jaket milik Rio yang waktu itu, ibu tahu dimana?” tanyanya bingung.
“ Kenapa dengan
jaketnya?”
“ Harus segera
dikembalikan, kalau ngga…..kalau ngga…”
“ Kalau ngga
kenapa?”
Ibu membiarkan Ciara sibuk dengan kebingungannya, melanjutkan menyiapkan makan malam mereka.
Ibu membiarkan Ciara sibuk dengan kebingungannya, melanjutkan menyiapkan makan malam mereka.
“ Ibu bantu
dong, kalau ngga segera ditemukan dia pasti akan menghajarku”
“ Kenapa kok
dihajar?” tanya Ibu bingung.
“ Udah lupakan,
dimana bu?” rengeknya.
“ Ada di lemari
kamu ibu gantung” jawab Ibu ringan.
Suasana kampus
siang itu sedikit sepi, apalagi hampir semua mahasiswa dihadapkan pada ujian
dadakan yang diadakan Dosen mereka. Dapat dibayangkan apa yang terjadi semua
tampak lesu, dan boring. Begitu juga Aku sangat bosan.
“ Rio, ganggu
ya”, tiba-tiba suara itu mengejutkan, begitu juga dengan apa yang ada
dihadapanku sekarang ini.
“ Ah… ngga,
ke..kenapa?”, aku sangat gugup waktu itu. Sungguh.
“ Maaf, aku
hanya mau ngembaliin ini” disodorkannya sebuah bungkusan yang terbungkus sangat
rapi.
“ Apa ini?”
tanya ku penasaran.
“ Itu… jaket
kamu yang waktu itu, sorry aku telat balikinnya”
“ Ah..ngga papa
kok”
“ Thanks ya, aku
harus segera balik ke kelas” aku menangkap sikap kurang nyaman dengannya dan
kegalauannya terasa begitu dekat denganku. Saat itu juga Ciara meninggalkanku
dan Philip.
Tanpa pikir
panjang aku mengejarnya, mencari jawaban dari kecemasan yang ada pada dirinya
saat itu walau mungkin akan sangat sulit. “ Ara!!!”
Ciara sama
sekali mengabaikan panggilanku, dan menghentikan sejenak langkahnya hanya untuk
mengatakan hal yang sangat menyakitkan.
“ Kembalilah
kedalam jangan ikuti aku, kalau kamu ngajak aku kedalam pun aku ngga mau karena
itu bukan tempat orang miskin seperti aku”
Tanpa menengok
sedikitpun dia melanjutkan langkahnya yang semakin cepat. Apa boleh buat. Apa
lagi yang harus aku lakukan. Aku hanya mengangkat kedua tanganku dan kembali ke
dalam.
“ Ada aturan
darimana hanya orang berada yang boleh makan dikantin ini? Mana ada. Sangat
tidak realistis” gerutuku.
“ Itu sudah
sejak kapan tahu lagi, apalagi sejak adanya kelompok hitam yang memecah jadi
seperti ini, dulu sih katanya ngga seperti ini” jelas Philip.
Entah apa yang
sedang aku pikir, saat ini aku hanya tertuju pada apa yang Ciara katakan waktu
itu. Sangat tidak masuk akal. Apalagi dikampus elit seperti ini, kelompok Hitam
siapa lagi? Apa ada hubungan dengan yang selalu menghajar Ciara?. Entahlah.
Seusai kelas,
aku berusaha mengajak Ciara ngobrol di pojok taman kampus, saat aku menemuinya
sangat sulit tapi setelah sedikit memohon diapun mau tapi, hanya 15 menit.
“ Ada apa?”
“ Gue Cuma mau
tanya…..” pertanyaan ku terpotong dengan pertanyaan yang sama ingin aku
tanyakan.
” Kenapa aku dibedakan, selalu diolok-olok, apalgi istirahat dikantin pun tidak boleh?….”
” Jawabannya Cuma satu KARENA AKU MISKIN DAN HANYA BEASISWA yang membawaku sampai disini. Puas?!” jelasnya.
” Kenapa aku dibedakan, selalu diolok-olok, apalgi istirahat dikantin pun tidak boleh?….”
” Jawabannya Cuma satu KARENA AKU MISKIN DAN HANYA BEASISWA yang membawaku sampai disini. Puas?!” jelasnya.
“ Cukupkan”
tambahnya.
Aku hanya diam
sangat sulit menerima hal itu.
“ Tapi kenapa?”
tanyaku datar.
“ Karena
dorongan sekolah dan keluarga yang telah membuat aku memilih ini walau aku tahu
akan seperti ini, semua pakai mobil mewah hanya aku yang naik bus, jadi siapa
aku pantaskah berbangga diri?”
“ Apa kabar
dengan pengetahuan yang tanpa membedakan kaya miskin?”
“ Di kampus ini
hal itu tidak berlaku sama sekali, yang penting gaya dan pamer itu dah cukup,
nilai tinggal bayar pengawas selesai. Lulus”
Itu memang
kebenaran yang aku tangkap disana tapi, apa sampai begitu parahnya. Cukup lama
kami berbincang, ada kekaguman yang mendalam pada diri Ciara, selain kekaguman
yang selalu aku rasakan sejak saat itu.
“ Lu yakin,
dengan keputusan lu ini? Jadi orang susah?” tanya Philip gusar.
“ Yang penting
lu dukung gue ok?!”
“ Phil, kaya’nya
gue jatuh cinta deh sama Ciara”
“ Karena itu lu
mutusin hal ini, lu masih waraskan? Apa kata anak-anak, orang tua lu?”
“ Masa bodoh,
buat apa mikirin hal yang ngga penting. Mikir orang lain lagi, ngga ada
untungnya buat gue.”
Mungkin aku
terlalu yakin dengan apa yang aku lakukan, meninggalkan Asrama dan mengontrak
rumah petak, meninggalkan kehidupan yang selam ini ada padaku.
“ Hei…ketemu
lagi kita ya..” sapaku saat tanpa sengaja aku bertemu dengan Ciara, dia sangat
terkejut dengan adanya aku di bus itu.
“ Hai kok naik
bus? Mana mobilnya?”
“ Enak juga ya
naik bus? Ada Ac-nya. Angin Cendela…hahahah”
Sungguh manis
saat dia tersenyum. Entah apa yang membawa kami kedalam obrolan yang sangat
menarik dari soal kehidupan dan pacar. Ternyata Ciara sosok yang sangat
bersahabat dan enak diajak ngobrol segala hal. Walau masih dengan sikap
menunduknya.
“ Kenapa kamu
mau tinggal ditempat kamu sekarang? Padahal apa enaknya?”
Pertanyaan itu
terucap saat kami berjalan ditaman sesaat setelah melihat hasil ujian semester
ini, aku akui dia pintar tidak salah kalau dapat beasiswa.
“ Kok ngga
dijawab?” tanyanya lagi.
“ Eh…aku….”,
“kok lama?”
“ Enak aja lagi,
emang kenapa?”jawabku spontan.
“ Kalau dirumah
atau di asrama kan ada pembantu jadi lebih enak tinggal bilang datang dan
selesai”
“ Kalau bisa
sendiri kenapa perlu pembantu?” tanyaku.
Untuk sekian
kalinya kami tertawa dan melupakan semua hal yang menyesakkan. Dan Ciara
memperlihatkan keenerjikannya diluar kebisuannya selama ini.
“ Yo’, kamu itu
lucu ya kalau gini”
“ Maksudnya?”
“ Iya, biasanya
Lu-gue, selalu pasang muka garang, cuek ngga mau kenal orang, sekarang….”
“ Itu kamu,
biasanya jalan nunduk, pendiam, sok tegar padahal rapuh, sekarang…”
“ Jadi berubah
semua bocor abis” kami mengatakannya bersamaan.
**
“ Ra’. Gila kali
lu ya, malam minggu ini jalan sama Rio? Gue ngga mimpikan denger berita ini?”
tanya Windy girang.
“ Kamu itu
ngomong apa? Ngga ada yang istimewa? Dimana-mana malam minggu sama saja”
“ Tapikan, dua
bulan ini lu deket banget sama dia, lu sering ke rumahnya begitu juga dia, masa
lu ngga ngerasa apa-apa sih?”
“ Udah deh cukup
berfantasinya. Aku kesana juga Cuma karena lewat dan searah karena rumahnya
hanya beberapa Blok dari sini. Windy sayang Aku dah bilang ngga akan ada
apa-apa”.
“ Lagian ini
bukan yang pertama kalinya jalan malam minggu sama dia so, ngga akan ada
peristiwa yang istimewa atau bahkan spektakuler, ok?” tambah Ara.
“ Apa kabar
dengan masalah perasaan?”
Ciara sempat
terdiam sejenak membuat seisi kamar hening.
“ Aku ngga ada feelling apapun, he
jus friends no more”
“but if you have
felling with him and you hide from the truth? What will you do?”
“ Win,
please…..”
“ Inget ra’
, if you love him lets tell, before to late”
Apa yang
dikatakan Windy sangat beralasan apalagi menyangkut perasaan tapi gengsilah
bila Ciara harus mengatakan terlebih dahulu. Dia hanya bisa berharap dan
berdoa.
Entah apa yang
akan terjadi bila saat ini aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku menyukainya
sejak saat pertama melihatnya. Semua persiapan sudah selesai, Philip yang
mengerjakan semuanya. Memasak, dekorasi merubah loteng rumahnya menjadi suasana
yang teramat romantis dan macam lainnya termasuk jemput Ciara.
Jam menunjuk
angka 7 malam dengan cuaca yang sangat indah di tambah dengan sinar bulan yang
menyinari seisi bumi.
Fly me to the
moon dear, do together with our love
Untukmu Kawan
*Kian Savero Adityansyah**
Langit jakarta malam ini sama dengan
hari-hari yang lalu, gelap tak berbintang, hanya dihiasi sinar jutaan watt
lampu dijalan yang aku tangkap tiap harinya yang berusaha menembus kegelapan
langit selama aku menginjakkan kakiku di kota yang penuh dengan kebisingan ini.
Dan ternyata semuanya hanya sia-sia langit tetap sama seperti yang kemarin
bahkan hari ini. Bising, membosankan, panas, segala yang menbingungan ada di
ibu kota ini.
Kalimat itu yang menghiasi catatan cerita
pada dokumen word yang jadi tempat curhatku tiap harinya. Tidak tahu
kenapa belakangan perasaaan gundah dan cemas selalu mengangguku apalagi sejak
mimpi-mimpi yang selalu hadir dalam tidurku setiap malam. Mimpi tentang bertemu
kembalinya aku dengan Yoppy seorang sahabat masa kecilku yang telah meninggal 2
tahun lalu akibat Over dosis dan HIV/AIDS yang menggrogotinya hingga dia
mengakhiri hidupnya dengan mengkonsumsi Inex (bahasa gaul dari Narkotika, red-)
secara berlebih. Entah apa maksud dari mimpi yang selalu menghantui itu, hanya
beberapa teman mengatakan bahwa Yoppy butuh bantuan doa dariku. Tapi bukannya
itu selalu aku panjatkan dalam setiap doaku. Entahlah aku bingung….
Kuhempaskan saja tubuh ini di lantai kamar
mencari jawaban dari semua teka-teki itu.
Yoppy adalah seorang sahabatku sejak kami
sama-sama sekolah di Jogja dari mulai SD sampai dengan kelas 2 SMU kami bersama
hingga banyak yang mengatakan kalau kami ini seolah seperti kakak-adik. Walau
sebenarnya kami bertolak belakang. Yoppy harus pindah ke Jakarta karena ayahnya
yang bekerja di Deperindag harus dipindahtugaskan disana. Pada saat itu juga
kami pisah, bukan hanya aku yang merasa sedih tapi juga teman segeng kami, Jo,
Aldi, dan Sony….
Kami hanya bisa mengetahui kabarnya lewat
surat pendek dan hubungan telpon singkat.
“ hei kalian pakabar, kangen nih pengen
ngumpul lagi dan berenang bareng di sungai desa seberang. Aku baek aja kok
hanya belakangan ibu sering sakit-sakitan dan ayah jarang pulang. Ok jaga diri
kalian ya…..”
Mungkin itu lah salah satu ini surat
pertama dan terakhir darinya. Sejak hari itu surat yang kami tunggu ngga pernah
datang lagi. Hanya secarik alamat yang tertinggal, sedang no telpon yang
ditinggalkan selalu tidak dapat dihubungi.
“ al, gimana ni dah setahun Yoppy ngga ada
kabar sama sekali, mba Selly juga ngga tahu kabarnya padahalkan dia kan
kakaknya” bukaku.,Aldi dan yang lain hanya diam. Sedang Sony
hanya mondar-mandir, tiba-tiba dia nyeletuk.
“ kita susulin aja dia ke jakarta, lagipula
kan Dinda ada keluarga disana, gimana?”
“kalau perlu pindah kesana aja, tahun ini
kan kita lulus” tambahnya.
“lu ini gila apa sinting sih, jakarta itu
bukan kaya di jogja” jawab Aldi seolah tahu segalanya.
Aku dan Jo terbengong dengan
percakapan mereka. Tapi benar juga pikirku, kenapa aku tidak berpikir sampai
disitu. Bukannya di sana ada Om Harry kakak mama dan istrinya Tante Marni. Aku
hanya senyum-senyum dengan pikiranku itu. Sementara yang lain masih bersitegang
dengan pikiran mereka.
“aku akan ke jakarta!” kataku tiba-tiba
mantap.
Sementara Aldi Cs terbengong kaget dengan
keputusanku yang mendadak.
“ka..kamu serius?” tanya Jo memastikan.
“ya aku akan ke sana!!” aku semakun mantap
dengan keputusan itu.
Kutemukan sebuah amplop putih tanpa alamat
dan pengirim berada dalam kotak suratku. Terburu aku buka surat itu. Ternyata
dari Yoppy.
“ Din, pakabar… sory lama ngga kasih kabar.
Aku baik kok, gimana kabar anak-anak yang lain?. Oh ya ibu sudah 2 bulan ini
meninggal dunia akibat serangan kanker rahim. Sekarang ayah punya istri baru
Wulan namanya. Sejak saat itu aku tinggal sendiri. Jaga diri kalian ya……”.
Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari
surat Yoppy kali ini tanpa alamat tanpa pengirim begitu juga yang lain.
**
UAN telah selesai dilaksanakan, kami sudah
sepakat setelah kelulusan segera ke Jakarta melanjutkan kuliah disana sekalian
mencari Yoppy sobat kecil kami yang entah dimana keberadaannya. Apalagi
masing-masing dari kami telah dapat ijin dari keluarga, hal ini semakin
memantapkan langkah kami.
Usai wisuda kelulusan kami segera bergegas
berpamitan dengan teman, keluarga dan kerabat untuk segera ke Jakarta.
“ JAKARTA kami datang……” teriak kami
girang.
Kereta Taksaka yang membawa kami mulai
berjalan malam itu, semakin cepat, dan cepat. Memang cukup jauh jarak yang
harus kami tempuh ya…. 8 jam lamanya kami harus didalam kereta. Cukup
membosankan berada di dalam kotak panjang yang berjalan diatas rel baja sebagai
lintasan pacunya, ditambah suara gemuruh dan goyang saat kereta berjalan.
Sangat membosankan. Waktu menunjuk tengah malam tapi masih saja mata ini sulit
terpejam, pikiran ku masih melayang hingga tiba-tiba terbesit dalam pikirku
sosok gadis lugu yang sudah terlalu lama terlupa, Seruni, gadis kecil yang aku
kenal sewaktu aku liburan ke jakarta 5 tahun lalu di belakang komplek perumahan
Om Harry. Mungkin sekarang sudah sama aku lulus SMU dan siap ke jenjang kuliah.
Kutepisnya bayangan itu tiba-tiba sambil ku lempar pandangan ke luar….
**
“perhatian para penumpang sekalian kereta
dalam 5 menit kedepan segera memasuki pemberhentian terakhir Stasiun Gambir,
harap penumpang mempersiapkan barang bawaan dan periksa barang anda jangan
sanpai ada yang tertinggal, terima kasih telah menggunakan kereta ini”.
Suara salah seorang pramugara kereta
mendadak membangunkan kami, tanpa sadar kereta sudah memasuki Jakarta.
“ Jo.. bangun dah nyampai..” bentakku.
“Al, periksa barang bawaan kita ya.. aku
telpon tante Marni diluar” perintahku. Sementara aku keluar, jo yang terkaget
masih bingung sedang Aldy dan Sony sibuk dengan barang bawaan mereka.
“bantuin dong Jo…berat nih jangan ling-lung
gitu dong” kata Aldy sewot.
“iya…ini juga baru mau bantu” jawab Jo
tidak kalah sewot.
‘udah ngga usah berantem cepetan udah
ditunggu Dinda di luar” sergah Sony sambil menunjuk Dinda yang telah berada
diluar asyik dengan percakapan dengan tante dan om nya mengenai kedatangannya
ke jakarta.
“oh… gini toh jakarta panas banget…” seru
Jo yang emang kejawen banget.
“udah ngga usah Ndeso gitu,
memang di Jogja ngga panas apa?” timpal Aldy.
“ yee cuma bilang gitu aja sewot” gerutu
Jo.
“udah yuk cari taksi” ajakku mengakhiri
petengkaran mereka.
Sebuah taksi membawa kami membelah jakarta
pagi itu yang masih sepi kendaraan dan orang lalu lalang menuju salah satu
perumahan di daerah Kelapa Gading. Membutuhkan sejam untuk sampai di daerah itu
disana keluarga Om Harry sudah menunggu dengan penuh bahagia menyambut kami.
”ini dia tamu kita dah dateng…calon anak-kost” sapanya ramah sambil memelukku dan menyalami yang lain. “ ayo masuk” ajaknya.
Selama disana kami disambut sangat ramah,
Om Harry banyak bercerita keadaan selama tinggal disini dari kejadian Trisakti,
kerusuhan sampai keadaan yang sekarang ini Krisis ekonomi. “Sungguh
mengasyikkan pikirku tinggal di Jakarta selain kami ingin melanjutkan ke
jenjang Universitas tujuan kami yang lain adalah mencari kawan kami yang
hilang, Yoppy Pratama”. Kalimat itu tiba-tiba membisukan seluruh ruangan paman
yang sedari tadi sibuk bercerita terkaget dengan ucapanku begitu juga Tante
Marni dan Cantik putrinya.
“ kenapa, ada yang salah ya? Kok pada
bingung begini?” tanya ku kebingungan melihat reaksi semua yang ada di ruangan
itu.
“ah… ngga ada apa-apa, paman cuma kaget aja
tiba-tiba kamu mengatakan hal itu, ya kan bu?” katanya kemudian diikuti
anggukan Tante Leny, mengiyakan.
Kami pun lalu tertawa setelah melihat
kejadian yang membekukan itu. Tapi satu hal ada yang mengganjal rasanya ada
yang paman sembunyikan dari kami. Tapi sudahlah aku tidak mau lagi menambah
pikiran ku dengan apa yang paman ucapkan dan tafsiran bodohku. Lebih baik aku
kembali kekamar dan merebahkan badan dan mengendorkanototku yang masih tegang
sejak dikereta.
“ paman kayanya Dinda merasa ada yang paman
sembunyikan dari pembicaraan terakhir mengenai Yoppy….?”
“ ah.. kamu ngga pernah berubah selalu
dengan penafsiran, oh ya bagaimana kabar orang tua mu?” seolah paman
menghindari dari pertanyaan itu.
“ sudahlah paman jangan suka mengalihkan
pembicaraan, tinggal jawab aja apa susahnya sih? Dari pada bohong begitu.”
Sesaat ruang depan jadi sepi malam ini,
“ngga ada apa-apa kok” elaknya lagi.
“sudahlah paman biar Dinda dan teman-teman
yang cari jawabnya sendiri”. Akupun meninggalkan paman yang masih terpaku.
Sedang kau merasa ada tantangan untuk mengetahui jawaban teka-teki itu.
**
Hari ketiga di jakarta tidak banyak yang
dapat kami lakukan selain selalu jalan sekitar komplek dan senda gurau serta
menunggu tes UMPTN disalah satu universitas di Jakarta.
“ om kemarin nyariin Kak Yoppy ya?”
tiba-tiba Cantik menanyakan pertanyaan yang aku utarakan ke paman beberapa hari
lalu.
“ iya emang kenapa? Dia itu kawan om waktu
kecil, anaknya baik banget….” kalimatku terpotong dengan jawaban tak terduga.
“…..suka ketawa dan suka ngasih permen sama
Cantik”, Cantik tampak tersenyum bahagia ambil menerawang jauh kelangit yang
mendung hari itu.
“ dia sering datang lagi Om, ke rumah
Cantik. Beberapa kali juga sempat menginap. Om tahu ngga sih kalo kak Yoppy itu
orangnya ganteng banget, trus suka main ke tempat kak Seruni nyeritain Om Dinda
lho….dia selalu bangga setiap nyeritain Om” gadis cilik ini begitu lincah
bertutur, sehingga aku terlena dibuatnya apalagi mengenai Seruni.
“ tapi…..” tiba-tiba gadis kecil itu
tertunduk dan tidak melanjukan ceritanya.
“ tapi kenapa Cantik?” aku jadi penasaran
dibuatnya. Sementara Cantik masih terdiam air mata gadis cilik itu menetes.
“ lho kok malah nangis? Ada apa boleh Om
Dinda Tahu?”
“ tapi sejak mamanya meninggal kak Yoppy
jarang kerumah, apalagi setiap kerumah selalu bertengkar sama mama-papa, dan
selalu kakak dipukul hingga berdarah….cantik jadi sedih” ceritanya.
Aku tidak percaya gadis umur 7 tahun dapat
membuka semua kebohongan paman selama ini dengan kepolosannya. Tangan ku
mengepal dan bergetar dasyat tubuh ini mendengar semua ini.
“ oh ya om kata kakak kalo nanti om kesini
Cantik disuruh kasih ini ke Om, katanya ini sangat berarti buat om”
dikeluarkanya sebuah kalung liontin merah yang aku ingat itu adalah
kenang-kengan waktu dibali dulu dibelakanya tertulis nama kami.
“ kakak juga bilang: atas nama persahabatan
selalu selamanya bersama walau maut memisahkan” kami mengucapkan kalimat itu
bersama. Kami pun terdiam.
“ Paman, besok Dinda dan kawan-kawan pindah
di kost yang baru, jadi paman tidak perlu repot lagi ngurusin aku dengan
kebohongan ini” ucapanku spontan membuyarkan keseriusan paman yang sibuk
dengan lemburannya yang menumpuk.
“ maksud kamu apa, paman ngga ngerti.
Sudahlah paman sibuk”
“mengenai Yoppy, Seruni, dan ibunya”
emosiku semakin tidak terkendali, sedang paman masih dengan kesibukannya.
“ pemukulan dan sandiwara kebaikan paman
sebelum mama Yoppy meninggal, tepi setelah itu paman membuang Yoppy memukulnya
dan…..” suaraku meninggi sehingga membangunkan seluruh isi rumah menuju keruang
kerja tempat kami bertengkar.
“ cukup!!!” paman menghentikan kata-kataku
yang semakin tidak karuan.
“ kamu tahu apa tentang dia? Teman,
sahabat, kalung?? Dia Anakku!” kalimat terakhir membuat ku terasa mati langkah,
antara pecaya tidak percaya.
“ kamu tahu dia anakku yang kutitipkan ke
mbak Ross yang sekarang dia akui sebagai ibu dan mengganggapku sampah padahal
aku yang biayai semua hidupnya”
“sejak dia dijakarta dia berubah menjadi
orang lain penuh bau alkohol,wanita dan narkotik. Selalu minta uang. Hingga
saat terahir mbak Ross meninggal dia tidak pernah berubah!” paman semakin gila
dengan cerita dan emosinya yang tidak mampu dibendung lagi.
“ cukup papa, jangan diteruskan….” cegah
tante Leny. Tapi paman tidak menggubris larangan.
“hingga akhirnya aku mengusirnya dan….”
kalimat itu terhenti.
“ dan membuangnya menbiarkan dia
kedinginan dan merasa terbuang?” tambahku.
Keadaan malam itu adalah penuh dengan emosi
dan panas. Sedang yang lain mendengar dan tidak mampu berbuat apa untuk
menghentikan pertikaian kami.
“ kamu salah anak muda…. dia tetap disini
dengan keadaan yang sama hingga minggu lalu…..”
“ kakak meninggal over dosis dan positif
HIV AIDs” cantik menambah kalimat yang terputus itu lalu menghambur lari
kekamarnya. Semua beralih menatap gadis kecil itu.
Spontan kami semua terkejut tidak terkecuali
paman dengan pernyataan sikap Cantik yang mengatakannya secara gamblang tidak
ditutupi malah terkesan polos.
Mendengar pernyataan itu paman tersungkur
simpuh tidak berdaya, dan aku mengejar Cantik dikamarnya diikuti tante Leny,
sedang yang lain masih tidak percaya dengan tragedi yang menimpa sahabat
semasa kecil mereka.
“Cantik maafkan om ya…” ucapku lirih.
“om ngga salah kok, memang seharusnya ini
diceritakan bukan disembunyikan, kakak pernah bilang kalau terus bohong lama
ketahuan juga iya kan om?” tangan kecil itu menarikku dan memelukku erat dan
membisikkan kalimat “kakak tenang sekarang melihat sahabat kakak tidak pernah
berubah”, aku mengernyitkan dahiku dan melepas pelukan itu memandang lekat
Cantik menunggu kalimat selanjutnya.
” itu pesan terakhirnya” rasanya itu menjadi kalimat terakhir cantik malam itu apalagi saat aku tanya surat terakhir yang aku terima cantik hanya diam dan tante yang menjawab bahwa dialah yang menulis surat itu tanpa maksud apapun.
” itu pesan terakhirnya” rasanya itu menjadi kalimat terakhir cantik malam itu apalagi saat aku tanya surat terakhir yang aku terima cantik hanya diam dan tante yang menjawab bahwa dialah yang menulis surat itu tanpa maksud apapun.
Sejak kejadian semalam kami masih terdiam kaku
seolah badai salju baru saja menghantam dan membekukan suasana di antara kami.
Suasana kembali mencair setelah ada ajakan dari Aldi untuk berziarah ke makam
Yoppy. Walau pun sebelumnya paman menolak ajakan itu setelah mengingat kata
Cantik “ saatnya untuk meminta maaf mama-papa” mereka pun mengiyakan rencana
itu,dan kami akan pergi esok pagi.
**
Matahari masih malas menampakkan sinarnya
gara-gara hujan semalam, sementara aku masih tertidur bersama Cantik
disampingku yang sudah terbangun duluan. Yang lain juga demikian.
Alarm beker dikamar menunjukkan jam 7 pagi
saat aku bangun, kulihat dengan samar Cantik sudah rapi dengan baju untuk
ziarahnya disusul yang lain.
“kerbo bangun dah siang jam berapa mau
perginya?” suara Aldi membuka mataku lebar-lebar.
“ iya ini juga udah jalan” kataku malas.
Setelah beberapa lama kami semua sudah siap
tanpa kecuali paman Harry. Kami pun segera menuju pemakaman yang ditempuh
selama 30 menit dari rumah. Selama perjalanan aku terpaku padaingatan masa lalu
ku juga sebuah sajak yang aku tulis bersama Yoppy semasa SD.
Persahabatan yang indah tanpa tikai,
Bersama duka lara
Saling mengangkat saat jatuh
Berpeluk saat bahagia
Untukmu sahabat sejati
Bersama selamanya
Tanpa terasa kami sudah sampai di lokasi
pemakaman yang tertata rapi. Sesaat semua membisu setelah berhadapan pada
sebuah nisan yng masih basah dengan air hujan semalam tertulis “YOPPY PRATAMA ,
LAHIR 15 NOVEMBER 1984, WAFAT 16 NOVEMBER 2001”. Tiada yang dapat kami
panjatkan selain doa dan doa keselamatannya.
“ sobat maafkan aku segala salah ku kini
semua telah lengkap perjalananmu walau hanya sesaat tapi aku tahu itu bahagia
untukmu, aku janji persahabatan kita tidak akan hanya sampai di sini semua
cita-cita itu akan terwujud. Semoga damai selalu menyertai mu. Amin”.
**
Sebulan sudah kami berada di Jakarta selama
itupula semua kenangan itu terukir. Tapi ternyata waktu berkehendak lain.
Setelah teman-teman tahu keadaan ini mereka memutuskan kembali ke Jogja apalagi
setelah mereka dinyatakan tidak lulus tes. Apa yang dapat aku perbuat sungguh
tidak bisa aku melarang mereka, tapi satu hal yang melegakan kami akan tetap
bersama walau jarak memisahkan dalam ikatan PERSAHABATAN.
Sedangkan aku tetep dikota yang penuh
polusi ini melanjutkan belajar serta mewujudkan semua mimpiku dan harapan Yoppy
menjadi model dan seorang bintang masa depan.
“untukmu sahabat ku persembahkan kesuksesan
ini” ucapku dalam hati.
Sejak hari itu kami hanya mampu
berkomunikasi lewat telepon dan e-mail karena salah satu suantara kami, Sony
melanjutkan sekolah di Melbourn University.
Kini aku tahu apa maksud mimpi itu, aku
harus tetap berjuang untuk mewujudkan semua ambisi, angan dan impian kami bahwa
aku tidak boleh berhenti sampai disini.
“aku akan terus berjuang teman tetaplah
dibelakangku mendampingi dan menuntunku. Satu untuk semua semua untuk
satu. Bersama selamanya”
Indahnya persahabatan jikalau kita bersama
Saling mengangkat dan mensejajarkan
Tertawa membawa damai
Walau pertikaian selalu ada, suka cita kita
bawa
Semua selesai dengan sendiri
Bila kau sakit dan jatuh
Kami kan mengangkat
Jika kau diatas kau kan menunduk
Ingat kami kawan, ingat janji kita
Bersama selamanya
Dalam seru cinta suka cita “ persahabatan”
Dan persahabatan itu selalu indah….
oo0oo
untuk yang telah mendahului kami Ivan
Ardi Pratama, kau selalu untuk dikenang.Kawan.
Subscribe to:
Posts (Atom)


